MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Petani kakao di Desa Batok, Kecamatan Gemarang harus berlapang dada. Pasalnya, harga bahan baku coklat tersebut naik turun tidak menentu.
Harga kakao untuk kadar air 8-9 hanya kisaran Rp 90 ribu per kilogram.
Sedangkan yang kadar air 25-29 dari kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu.
Salah seorang pengepul kakao Sutini menjelaskan, harga mengalami penurunan dibandingkan bulan lalu yang masih cukup tinggi.
"Kemarin itu sempat yang kadar air rendah itu Rp 130 ribu per kilogram dan yang basah atau kadar air tinggi di Rp 85 ribu sampai Rp 90 ribu per kilogram," ungkapnya.
Sutini juga mengeluhkan hasil kakao tahun ini yang menyusut.
Faktornya, banyak tanaman kakao yang terserang penyakit, sehingga hasil panen tidak maksimal.
Pun juga banyak yang ditebang dan beralih ke porang.
"Penyakitnya itu muncul setelah berbuah dan akhirnya merusak buah itu sendiri. Tahun lalu itu sebulan bisa dapat 10 ton dari petani lokal sini saja, sekarang hanya 5 ton," sebutnya.
Pihaknya pun berharap kondisi tersebut segera berakhir.
Tanaman kakao kembali normal dan buah yang dihasilkan lebih banyak lagi.
"Kami juga berharap harga tidak naik turun. Tetap stabil baik dari petani maupun setelah mengalami penjemuran," pungkasnya. (ryu/aan)
Editor : Mizan Ahsani