MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Setali tiga uang dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag), Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdagkop-UM) Kabupaten Madiun juga memprediksi harga minyak goreng (migor) subsidi bakal naik.
Prediksi tersebut muncul selepas OPD tersebut melakukan rapat dengan pusat.
‘’Masih dalam pembahasan belum disahkan naik jadi Rp 15.700, pun jika memang jadi naik, kami di daerah tentu mengikuti aturan tersebut,” kata Kabid Perdagangan Disperdagkop-UM Kabupaten Madiun Hendah Dwi Wijayani, Jumat (5/7).
Menurut Hendah ada beberapa faktor yang mendorong pemerintah pusat mewacanakan kenaikan harga eceran tertinggi (HET) MinyaKita.
Yakni, harga bahan baku untuk migor seperti kelapa sawit harganya juga naik.
“Kemudian pertimbangannya karena saat ini juga sudah dua tahun HET itu diterapkan, jadi ada evaluasi dari pemerintah pusat,” ujarnya.
Terkait dengan respon masyarakat, Hendah mengatakan pihaknya memilih tidak menebak-nebak dan pasrah akan hal itu.
Pun semisal harganya tinggi dan masyarakat lebih memilih untuk membeli migor premium, pihaknya tidak masalah dan mengartikan baik lantaran daya beli masyarakat mulai naik.
“Tapi kami memprediksi jika Minyakita naik maka harga migor di pasar bisa jadi juga ikut naik, otomatis masyarakat masih memiliki alternatif pilihan, yakni Minyakita sebagai migor subsidi yang harganya lebih terjangkau dibanding premium, sehingga tujuan membantu masyarakat pun tetap terpenuhi,” tuturnya.
Terkait saat ini harga jual Minyakita di pasaran yang terpantau sudah melebihi HET, kisaran Rp 15.500 per liter dari HET sebesar Rp 14.000 per liter. Hendah menampik jika ada kenaikan harga jual di distributor resmi.
Kemungkinan besar harganya melebihi HET itu diterima pedagang eceran dari pihak kedua setelah distributor.
“Untuk itu kami harapkan jika ingin harga sesuai HET bisa ambil langsung didistributor resmi, di luar itu kami tidak bisa mengendalikan harga jual di pasaran,” pungkasnya. (ryu/aan)
Editor : Mizan Ahsani