MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Identitas daerah bisa ditemukan pada motif batik. Itu terlihat dari batik karya perajin di Desa Balerejo, Kecamatan Kebonsari.
Guna mengenalkan ciri khas daerahnya, para perajin memadukan logo kampung pesilat dengan aneka motif batik.
Seperti porang, manco, bunga, daun, motif klasik parang, gabah sinawur, kawung dan lain sebagainya.
Salah seorang perajin batik yang masih eksis dan memproduksi batik khas Kabupaten Madiun adalah Siti Suwarni.
Sudah beberapa tahun belakangan, dia memproduksi batik motif kampung pesilat.
Awalnya pada 2013 lalu, perempuan berusia 62 tahun itu memproduksi batik dengan motif manco dan porang.
Kedua motif itu berinspirasi dari komoditas asli Kebonsari.
“Kemudian ada surat edaran dari Bupati Madiun sekitar 2019 lalu, bahwa logo kampung pesilat wajib ada di setiap lini masyarakat, akhirnya saya berinisiatif memasukkan motif tersebut ke dalam batik buatan saya dan hingga sekarang sekecil apapun itu pasti ada,” katanya.
Inovasi dari Siti disambut hangat masyarakat atau konsumen batik.
Terutama di kalangan aparatur sipil negara dan instansi-instansi yang ada di Kabupaten Madiun yang berbondong-bondong memesan secara custome motif batik kampung pesilat.
“Rata-rata yang memesan kain batik kampung pesilat dengan dikustom motif lain itu dari OPD dan instansi daerah. Biasanya dipakai untuk seragam, tapi ada pula yang memesan kalangan sendiri baik dari Madiun Raya maupun luar daerah,” tuturnya.
Untuk memproduksi kain batiknya, Siti dibantu 10 tenaga kerja.
Mereka bertugas di masing-masing bagian, yakni pengeblatan, pencantingan, pewarnaan, penguncian warna, hingga pelorotan warna. Proses pembuatan memakan waktu empat sampai enam hari per lembar kain.
“Biasanya sehari bisa enam lembar kain jadi itu jika sudah ada yang dicanting, diwarnai dan sebagainya," ungkapnya.
"Untuk per lembar ada kisaran harga Rp 180 ribu sampai Rp 1,2 juta tergantung kerumitan pembuatan motifnya, di sini ada batik tulis, cap dan ecoprint,” imbuhnya.
Saat momentum hari batik nasional ini, Siti berharap masyarakat tidak hanya mengenal batik sebagai salah satu budaya bangsa.
Namun juga mencintai dan bangga untuk memakai serta melestarikannya karena merupakan warisan budaya yang senantiasa harus dijaga.
“Untuk teman-teman perajin batik harapannya tetap semangat berinovasi agar karya batiknya tetap disukai oleh masyarakat,” tutupnya. (ryu/aan)
Editor : Mizan Ahsani