MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Meski panen raya, petani durian di Desa Segulung, Kecamatan Dagangan harus menelan kekecewaan.
Pasalnya, kuantitas panen durian tahun ini menyusut hampir separo dibanding tahun lalu.
“Tahun ini bisa dikatakan gagal panen, karena hasilnya sedikit,” kata Winanto, ketua kelompok tani di Desa Segulung, kemarin (21/1).
Pria berusia 48 tahun itu mengatakan pada musim panen tahun ini hasil buah durian jauh lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya. Penyusutannya pun mencapai 60 persen.
“Jadi banyak yang rontok sebelum masak atau masa panennya, akhirnya di waktu panen ini sedikit,” ungkapnya.
“Masa panen mulai akhir Oktober tahun lalu sampai nanti Maret,” imbuh Winanto.
Menurutnya, faktor utamanya gagal panen tahun ini dikarenakan curah hujan yang sangat tinggi.
Meski kuantitas menyusut, tidak mempengaruhi kualitas buah durian yang dihasilkan Desa Segulung.
“Untuk kualitas dan rasanya hampir sama atau tidak ada beda dengan panen biasanya, masih bagus, enak dan khas. Hanya kuantitasnya yang berkurang dibanding sebelumnya,” ujarnya.
Akibat susutnya hasil panen durian tahun ini, warga Desa Segulung mengaku sedikit kesulitan memenuhi permintaan pasar atas ketersediaan buah durian.
Bahkan saat ini buah durian Segulung sudah disuplai dari lima desa terdekat, seperti Padas, Ngranget, Mendak hingga Batok.
“Untuk jenisnya paling banyak lokal, paling favorit durian lokal kawuk, lalu ada yang premium ada montong, duri hitam, bawor, dan musang king,” paparnya.
“Harganya sesuai dengan jenis dan kualitas buah durian, terendah itu Rp 25 ribu hingga tertinggi jenis duri hitam bisa Rp 250 sampai Rp 300 ribu per kilogram,” tandas Winanto. (ryu/aan)
Editor : Mizan Ahsani