MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Pedagang di Pasar Baru Caruban (PBC) dibikin pusing tujuh keliling. Dari tahun ke tahun, mereka terus menghadapi sepinya pembeli.
Hal ini memaksa sejumlah pedagang menutup kiosnya. Tidak hanya itu, kondisi bangunan yang memprihatinkan semakin membuat dilema mereka kian bertambah.
“Kalau turun hujan bocor di mana-mana. Bahkan untuk lampu saja, ketika mati kami harus swadaya sendiri, tidak ada perawatan dari pihak pengelola pasar," terang Ketua Paguyuban PBC Muhammad Danan Puja Murjoko, Senin (17/3).
Menurutnya, kondisi fisik pasar sudah lama mengalami kerusakan, terutama atap yang bocor saat hujan.
Bahkan, untuk perawatan berkala seperti penggantian lampu para pedagang harus melakukannya secara swadaya, jika tidak pasar akan gelap gulita.
Tidak hanya itu, dari 1.200 kios yang ada di PBC hanya sekitar 250-an kios yang masih aktif dan bertahan.
Namun semakin hari jumlahnya semakin berkurang dan tutup permanen karena sepinya pembeli.
“Itupun kadang seminggu jualan, dua minggu nggak jualan mengingat sepi. Karena kalau buka terus tidak laku jualan akhirnya labanya kurang," ungkap Joko.
Keluhan itu telah ia sampaikan beberapa kali ke dinas terkait, termasuk langsung ke Bupati Madiun Hari Wuryanto saat melakukan kunjungan ke PBC pada Rabu (12/3) lalu.
Pun, selama ini tidak ada perawatan yang memadai dari pemerintah daerah. Perbaikan dilakukan terakhir pada Februari 2024 berupa pengaspalan atap, tetapi hanya sebagian kecil.
“Yang diperbaiki hanya sebagian saja hanya 50-70 persen, itu tak bertahan lama akhirnya menimbulkan kebocoran baru," bebernya.
Senada dikatakan Sadiyah (70), salah seorang pedagang konveksi di lantai 2 PBC. Dia mengaku kondisi pasar sangat berbeda dibandingkan dulu.
Apalagi menjelang lebaran, omzet yang dihasilkan bisa mencapai jutaan. “Kalau sekarang, sehari bisa tidak ada pembeli sama sekali. Omzet kadang juga nol,” tuturnya.
Mau tak mau, Sadiyah harus bertahan belasan tahun di PBC meski dagangannya kadang tidak laku.
“Kami berharap pemerintah daerah bisa mencari solusi agar pasar kembali ramai, misalnya dengan menyediakan angkutan murah dari desa ke pasar," tuntasnya. (ryu/aan)
Editor : Mizan Ahsani