Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Innalillahi, Jasad Warga Madiun yang Hanyut saat Rumahnya Roboh Diterjang Banjir Ditemukan di Blora

Dian Rahayu • Rabu, 19 Maret 2025 | 18:00 WIB
DIMAKAMKAN: Warga melaksanakan salat jenazah Wahyudiono d idepan musala kediamannya di Desa Dagangan, Selasa 18 Maret 2025.
DIMAKAMKAN: Warga melaksanakan salat jenazah Wahyudiono d idepan musala kediamannya di Desa Dagangan, Selasa 18 Maret 2025.

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Operasi pencarian jasad Wahyudiono, 75 warga Desa/Kecamatan Dagangan berakhir sudah.

Ini setelah jasad korban longsor yang terseret arus banjir di Sungai Dagangan pada 15 Maret lalu ditemukan Senin (17/3) sore.

Korban ditemukan di aliran Sungai Bengawan Solo, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Kepala Desa Dagangan Rudi Panca Widadi mengungkapkan tim Basarnas, BPBD, dan keluarga korban menerima informasi dari Tim Reaksi Cepat (TRC) Kabupaten Blora terkait penemuan jasad seorang pria di Bengawan Solo.

Setelah dilakukan identifikasi dan visum di kamar jenazah RSUD Blora, hasil pemeriksaan tanda fisik serta sidik jari menunjukkan jasad tersebut benar Wahyudiono.

“Begitu mendapatkan informasi yang menunjukkan kemiripan dengan korban, pihak keluarga segera berangkat ke Blora pada Senin sore,” ujarnya.

Kemarin (18/3), sekitar pukul 01.30 waktu setempat, jenazah Wahyudiono tiba di rumah duka.

Suasana haru menyelimuti keluarga yang tak kuasa menahan tangis saat melihat peti jenazah. Prosesi salat jenazah dilakukan oleh warga Desa Dagangan di dalam ambulans.

“Sesuai permintaan keluarga, peti jenazah sempat diberhentikan di depan rumah, tetapi tetap berada dalam ambulans. Begitu pula saat prosesi salat jenazah, yang dilaksanakan di halaman musala dengan posisi peti tetap di dalam kendaraan, sesuai SOP dari pihak rumah sakit,” tambah Rudi.

Sekitar pukul 02.00 WIB, jenazah Wahyudiono dimakamkan di pemakaman desa setempat.

Pemdes Dagangan pun berencana mengevaluasi kondisi rumah korban yang berada di daerah sepadan sungai.

Ini dilakukan agar keluarga Wahyudiono dapat tinggal di lokasi yang lebih aman dari resiko banjir.

“Bangunan rumah yang ambles akan kami evaluasi. Ke depan, kami menyarankan agar pembangunan rumah dilakukan dengan pondasi yang jaraknya lebih jauh dari plengsengan sungai untuk menghindari banjir maupun erosi  susulan,” pungkas Rudi. (ryu/aan)

Editor : Mizan Ahsani
#dagangan #hanyut #blora #madiun #banjir