Jawa Pos Radar Madiun – Masyarakat Kabupaten Madiun diminta waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi selama masa pancaroba dan kemarau basah.
Salah satunya angin puting beliung yang bisa terjadi akibat hujan intensitas sedang hingga lebat disertai perubahan cuaca ekstrem.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG Stasiun Nganjuk, Setiyaris menjelaskan, beberapa fenomena atmosfer sedang berlangsung dan diperkirakan terus terjadi hingga Agustus.
‘’Seperti gelombang Madden Julian Oscillation (MJO), Equatorial Rossby, gelombang Kelvin, hingga daerah konvergensi pertemuan angin di wilayah Jatim,’’ jelasnya, Senin (26/5).
Menurut Setiyaris, ketika terjadi pergantian cuaca panas-hujan secara cepat, proses konveksi di atmosfer meningkat.
Kondisi ini memicu pembentukan awan jenis cumulus hingga cumulonimbus yang berpotensi menimbulkan petir, hujan lebat, hingga angin puting beliung.
‘’Awan cumulonimbus inilah yang bisa menimbulkan angin kencang atau bahkan puting beliung,’’ terangnya.
Angin kencang biasa bergerak lurus, sedangkan puting beliung memiliki gerakan memutar dan lebih merusak.
Perbedaan tekanan udara di permukaan akibat pemanasan jadi penyebab utama terbentuknya puting beliung.
Daerah dataran rendah menjadi kawasan paling rawan.
‘’Dataran tinggi biasanya masih memiliki penghalang alami seperti pohon dan lereng. Tapi bukan berarti di dataran tinggi tidak bisa terjadi, hanya kemungkinan lebih kecil,’’ imbuhnya.
BMKG mengimbau warga tetap waspada, khususnya yang tinggal di area terbuka, minim vegetasi, atau dataran datar luas.
Masyarakat juga disarankan segera berlindung di tempat aman bila melihat pertumbuhan awan hitam pekat menjelang hujan deras. (ryu/aan)
Editor : Hengky Ristanto