Jawa Pos Radar Madiun – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Madiun tengah mengkaji penggabungan sejumlah sekolah dasar.
Kebijakan regrouping dilakukan demi efisiensi pengelolaan dan pemerataan mutu pendidikan.
Kepala Dikbud Kabupaten Madiun Siti Zubaidah menyebut pemetaan sekolah sudah dilakukan sejak tahun lalu.
Saat ini tinggal menunggu keputusan bupati sebelum diumumkan jumlah dan lokasi sekolah yang terdampak.
“Sekolah dengan siswa di bawah 60 sangat bergantung pada BOS. Tanpa Bosda, sulit berkembang,” ujarnya, Minggu (22/6).
Penggabungan juga menyasar sekolah satu kompleks yang memiliki jumlah siswa cukup banyak.
Namun, efisiensi dinilai rendah. Rombongan belajar akan ditata ulang agar sumber daya bisa dimaksimalkan.
Koordinasi sudah dilakukan dengan pengawas, koordinator wilayah, dan kepala sekolah. Evaluasi terakhir digelar pekan lalu.
“Kami identifikasi sekolah yang stagnan dan akan kami usulkan penggabungan agar proses belajar lebih efektif,” jelasnya.
Kriteria regrouping meliputi stagnasi perkembangan, sedikitnya siswa, serta kedekatan lokasi.
Sekolah besar pun bisa digabung jika secara geografis dan manajemen memungkinkan.
Jumlah sekolah yang terdampak masih dirahasiakan. Namun, proses akan melibatkan pemerintah desa agar tidak menimbulkan kesalahpaham. (ryu/aan)
Editor : Hengky Ristanto