Jawa Pos Radar Madiun – Penanganan isu pernikahan dini dan stunting di Kabupaten Madiun dinilai cukup baik.
Namun, angka prevalensi stunting masih menjadi pekerjaan rumah yang harus ditekan.
Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur Maria Ernawati menyebut pernikahan anak di bawah usia 19 tahun masih marak di sejumlah daerah, terutama wilayah tapal kuda.
‘’Wilayah Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Lumajang, Pasuruan, Situbondo, dan Probolinggo masih cukup tinggi karena faktor budaya,’’ ujarnya usai melepas Kirab Pataka Harganas ke-32 di Pendopo Ronggo Djoemeno, kemarin (23/6).
Ia menjelaskan, praktik perjodohan masih kuat. Bahkan, kerap berujung kehamilan di luar nikah.
Sebagian masyarakat juga menganggap menikah muda lebih baik daripada menjadi “perawan tua”.
Selain budaya, faktor ekonomi dan pendidikan turut mendorong maraknya pernikahan dini.
Meski begitu, Ernawati menilai penanganan dua isu tersebut di Kabupaten Madiun sudah cukup baik.
Hanya, penurunan angka stunting masih perlu ditingkatkan.
‘’Harapan kami, ke depan bisa melahirkan generasi unggul dan sehat,’’ tegasnya. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto