Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

13 Minggu Tak Dibayar, Petani Tebu Madiun Menjerit Gara-Gara Gula Impor

Dian Rahayu • Selasa, 26 Agustus 2025 | 17:30 WIB
Serapan gula petani macet sejak Juli. Belum ada pembayaran hasil panen selama 13 minggu. ILUSTRASI FOTO: AJI PUTRA/RADAR MADIUN
Serapan gula petani macet sejak Juli. Belum ada pembayaran hasil panen selama 13 minggu. ILUSTRASI FOTO: AJI PUTRA/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Nasib petani tebu di Kabupaten Madiun kian terjepit.

Sejak panen raya Juli lalu, para petani mengeluhkan belum menerima pembayaran hasil panen.

Penyebabnya, gula produksi lokal belum laku terjual hingga 13 minggu.

“Sekarang ini petani tebu setengah mati karena gula tidak laku. Sudah 13 minggu ini kami tidak terima uang dari gula,” kata Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Madiun, Mujiono, kemarin (25/8).

Mujiono menyebut program dropping gula rafinasi atau gula impor menjadi biang seretnya penjualan gula lokal.

Stok berlimpah membuat gula petani tak terserap.

Upaya penyerapan melalui Danantara sesuai hasil audiensi DPR RI juga belum berjalan.

“Sudah hampir dua bulan Danantara sampai sekarang juga belum terealisasi. Kami selalu diberi janji-janji, bahkan Menteri Pertanian berjanji siap menyerap, tapi sampai saat ini kami kesulitan,” ujarnya.

Dia menilai pemerintah kurang tanggap dalam menangani masalah ini.

Jika terus dibiarkan, kerugian petani bakal semakin besar.

“Pemerintah harus berani membeli gula, seperti Bulog membeli padi. Kalau tidak, petani tebu bisa mati pelan-pelan,” tegasnya. (odi/aan)

Editor : Hengky Ristanto
#petani tebu Madiun #petani belum dibayar #gula rafinasi #aptri #harga gula 2025 #madiun #gula lokal tak laku #impor rafinasi