Jawa Pos Radar Madiun - Antusiasme warga Desa Kuwu benar-benar terasa saat puncak perayaan HUT ke-80 RI sekaligus acara bersih desa, Selasa (26/8).
Sejak sore hingga dini hari, warga berbondong-bondong memadati lokasi untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit bersama dalang Ki Joko Klentheng.
Ki Joko Klentheng, yang dikenal dengan gaya humorisnya, sukses membuat penonton betah hingga pagi.
Gelak tawa sesekali pecah di tengah malam saat sang dalang melontarkan guyonan khas yang mengocok perut.
Namun, lebih dari sekadar hiburan, lakon yang dibawakan sarat akan pesan kehidupan.
Malam itu, lakon “Semar Mbangun Kahyangan” dipentaskan. Kisah ini mengingatkan masyarakat tentang pentingnya kesucian hati dalam hidup bermasyarakat.
Semar digambarkan bukan sedang membangun kahyangan para dewa, melainkan kahyangan hati manusia, sebuah ajakan agar hati dibersihkan dari sifat iri, dengki, dan prasangka buruk.
Dalam lakon tersebut, Semar sempat disalahpahami tokoh lain, seperti Prabu Duryudana dan Batara Guru.
Mereka mengira Semar iri karena hanya menjadi abdi, sementara Batara Guru berkuasa di kahyangan.
Namun, Semar menegaskan bahwa yang ia bangun adalah nilai kemanusiaan, yakni gotong royong, persatuan, dan kebaikan hati.
Warga Kuwu yang hadir pun mengaku terkesan dengan makna mendalam dari cerita itu.
Wayang kulit kali ini tak hanya menghadirkan hiburan tradisional, tetapi juga menjadi pengingat tentang pentingnya kebersamaan dan nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani