Jawa Pos Radar Madiun - Program makan bergizi gratis (MBG) yang kini dijalankan pemerintah ternyata bukan hal baru bagi pondok pesantren (ponpes).
Di Ponpes Darussalam Mekar Agung, Kebonsari, sistem makan mandiri telah diterapkan sejak 1982.
Pengasuh ponpes, Muhammad Yasin, menyebut sistem tersebut sudah berjalan sejak pondok berdiri.
’’Dulu santrinya hanya 11 orang, sekarang sudah mencapai 1.500 santri putra-putri dari anak-anak hingga usia kuliah,’’ ujarnya kemarin (13/10).
Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, pihak ponpes membagi proses memasak ke dalam sembilan dapur.
Masing-masing dapur melayani 100 hingga 500 porsi dengan tenaga masak 3–4 orang per dapur.
’’Sistem makan di sini ada yang dua kali, ada juga yang tiga kali sehari. Karena jumlah santri banyak, jadi dapurnya dibagi supaya tidak terlalu berat pekerjaannya,’’ jelasnya.
Gus Yasin –sapaan akrab Muhammad Yasin– menjelaskan menu diatur bergantian setiap hari dan disusun mingguan agar tidak monoton.
Santri mendapat nasi, sayur, dan lauk dengan prioritas kebersihan dan gizi seimbang.
’’Yang penting bagi kami, makanannya bersih dan sehat. Untuk sekali makan biayanya sekitar Rp 4.500, jadi kalau tiga kali tinggal dikalikan saja,’’ tambahnya.
Setiap santri dikenai biaya pondok sebesar Rp 300 ribu per bulan, dengan Rp 135 ribu di antaranya untuk makan.
Sebagian bahan pangan dibeli di pasar tradisional, sebagian lagi ditanam sendiri seperti kangkung, cabai, dan kacang panjang.
’’Kami menanam sebagian bahan makanan agar bisa lebih hemat dan mandiri. Alhamdulillah sejauh ini tidak ada permasalahan untuk makan bergizi anak-anak, mereka tumbuh dengan baik dan sehat,’’ tutur Gus Yasin. (ryu/aan)
Editor : Hengky Ristanto