Jawa Pos Radar Madiun – Jumlah teman jiwa atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kabupaten Madiun terus bertambah.
Di antara mereka, banyak yang merupakan mantan pekerja migran Indonesia (PMI) yang pulang kampung dalam kondisi mental terguncang.
“Ada yang karena faktor genetik, tapi banyak juga yang baru-baru ini muncul dari kalangan pekerja luar negeri. Mereka pulang dalam kondisi terguncang karena gagal atau patah hati,” ungkap Koordinator Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kabupaten Madiun, Fatkurohman, Sabtu (18/10).
Ia mencatat, jumlah teman jiwa di Kabupaten Madiun kini mencapai sekitar 2.500 orang yang tersebar di seluruh kecamatan.
Rata-rata lebih dari 20 orang per desa, sebagian di antaranya mantan PMI.
Menurutnya, kasus gangguan mental akibat tekanan batin berbeda dengan yang bersifat medis.
“Kita tidak bisa datang lalu bicara frontal. Harus pelan-pelan, karena ini persoalan hati,” imbuhnya.
Untuk pemulihan, TKSK mengandalkan rehabilitasi sosial berbasis keluarga dan masyarakat.
Pendamping membantu keluarga memahami kondisi teman jiwa agar diterima kembali di lingkungan sosial.
“Yang kita bina bukan hanya individu yang terguncang, tapi juga keluarganya. Kalau mereka bisa memahami, penyembuhan akan lebih cepat,” jelasnya.
Pendekatan yang dilakukan pun beragam.
Beberapa teman jiwa muda diajak beraktivitas di luar rumah untuk menumbuhkan semangat hidup.
“Ada yang saya ajak jalan-jalan atau wisata. Kebanyakan masih muda, masih gadis, dan jadi korban cinta yang tak terbalaskan. Kadang saya ikut terharu melihatnya,” tuturnya.
Meski faktor ekonomi masih menjadi penyebab utama, Fatkurohman menilai kasus gangguan mental di kalangan eks PMI kini meningkat dan perlu perhatian khusus.
“Mereka sebenarnya punya semangat, tapi kehilangan arah karena tekanan hidup dan perasaan. Maka kami berupaya hadir untuk mendampingi dan memulihkan mereka,” pungkasnya. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto