Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Monumen Korban PKI di Kresek, Saksi Bisu Tragedi Berdarah Madiun 1948

Hengky Ristanto • Senin, 3 November 2025 | 18:48 WIB
Monumen Korban Keganasan PKI di Desa Kresek, Wungu, Madiun, menjadi pengingat sejarah kelam 1948. Dikelola warga setempat sejak 1987 hingga kini. MIFTAHUL ABIDIN/MAGANG RADAR MADIUN
Monumen Korban Keganasan PKI di Desa Kresek, Wungu, Madiun, menjadi pengingat sejarah kelam 1948. Dikelola warga setempat sejak 1987 hingga kini. MIFTAHUL ABIDIN/MAGANG RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Ketika hiruk-pikuk Kota Madiun terasa menyesakkan, suasana berubah begitu melangkah ke Desa Kresek, Kecamatan Wungu.

Udara sejuk, hamparan sawah hijau, dan langit cerah menenangkan hati.

Namun, di balik keteduhan itu tersimpan luka sejarah: tragedi berdarah yang menewaskan tokoh-tokoh penting Jawa Timur akibat kekejaman PKI.

Untuk mengenang peristiwa kelam tersebut, Monumen Korban Keganasan PKI dibangun pada 1987.

Kini, monumen itu berdiri kokoh sebagai pengingat sejarah dan tempat edukasi bagi generasi muda.

Di balik penjagaannya, ada sosok sederhana bernama Narto, warga asli Desa Kresek yang sudah puluhan tahun mengabdi sebagai pengelola sekaligus pemungut tiket masuk.

“Kalau hari biasa ya sepi, paling satu dua orang saja. Kadang anak-anak PAUD sekitar sini,” tutur Narto.

Meski pengunjung tak selalu ramai, semangatnya tak pernah padam.

Ia menjadi narasumber bagi siapa pun yang ingin tahu kisah kelam di balik monumen itu.

Menurut Narto, tersedia pemandu khusus (guideline) bagi pengunjung yang ingin mendalami sejarah lebih dalam.

“Biasanya yang datang rombongan dari karisidenan Madiun. Mereka minta ditemani pemandu yang bisa menjelaskan langsung di lokasi,” ujarnya.

Pemandu itu mendapat honor Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per kunjungan.

Narto mengaku terlibat sejak awal pembangunan monumen, setelah ditunjuk melalui musyawarah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

“Dinas pariwisata memberi wewenang ke desa untuk mengelola. Saya salah satu yang diberi mandat,” katanya.

Setiap 1 Oktober, monumen itu menjadi pusat peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

Upacara bendera digelar khidmat, dihadiri Bupati Madiun sebagai pembina upacara, serta unsur TNI dan pejabat daerah.

Sementara itu, Arifin, juru parkir setempat, menyebut akhir pekan menjadi waktu paling ramai dikunjungi wisatawan.

“Kalau Sabtu-Minggu ramai, tapi hari kerja sepi. Paling satu dua kendaraan,” katanya sembari memberi aba-aba pada pengunjung yang hendak menyeberang.

Monumen di Kresek bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan pengingat agar kekejaman masa lalu tak terulang.

Di tempat hening itu, sejarah berbicara lewat batu dan diingat lewat dedikasi warganya. (miftahul abidin/her)

Editor : Hengky Ristanto
#desa kresek wungu #tragedi pki #wisata edukasi madiun #narto pengelola monumen #hari kesaktian pancasila #sejarah madiun 1948 #madiun #monumen korban pki madiun #Wisata sejarah Madiun