Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

BPBD Jatim Turun ke Madiun, Warga Morosowo Tunggu Alat Pendeteksi Longsor EWS Dipasang

Dian Rahayu • Rabu, 5 November 2025 | 19:10 WIB
Petugas BPBD Kabupaten Madiun memeriksa lokasi tanah retak di Dusun Morosowo, Desa Mendak, Kecamatan Dagangan, yang kini menunggu tindak lanjut BPBD Jatim. DOK RADAR MADIUN
Petugas BPBD Kabupaten Madiun memeriksa lokasi tanah retak di Dusun Morosowo, Desa Mendak, Kecamatan Dagangan, yang kini menunggu tindak lanjut BPBD Jatim. DOK RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur dijadwalkan turun ke Kabupaten Madiun pekan ini.

Mereka akan memeriksa kondisi tanah retak di Dusun Morosowo, Desa Mendak, Kecamatan Dagangan.

“Senin (3/11) kami sudah berkirim surat resmi dan berkoordinasi langsung dengan BPBD Provinsi. Mereka kemungkinan datang setelah meninjau Trenggalek,” kata Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Madiun Boby Saktia Putra Lubis, Rabu (5/11).

Boby menjelaskan, BPBD Provinsi memiliki alat pendeteksi keretakan tanah berteknologi tinggi.

Namun tim belum bisa segera turun karena masih fokus menangani longsor di Trenggalek yang menelan empat korban jiwa.

“Tahun lalu kami juga pernah mengajukan pemeriksaan serupa di wilayah Padas, Dagangan. Dari hasil pengecekan nanti akan keluar rekomendasi yang bisa segera kami tindaklanjuti,” jelasnya.

Permintaan pemasangan early warning system (EWS) yang diajukan warga Morosowo bakal direalisasikan setelah hasil pemeriksaan keluar.

“Kami sudah ajukan pengadaan satu unit EWS tahun depan. Syukur-syukur BPBD Provinsi bisa membantu pengadaan alat itu setelah hasil pemeriksaan rampung,” ujar Boby.

Delapan rumah warga terdampak tanah retak kini sudah kembali ditempati.

Namun, setiap hujan deras turun, mereka diminta mengungsi sementara ke musala atau tenda darurat BPBD.

“Kami tugaskan dua personel siaga di lokasi untuk evakuasi cepat bila terjadi pergerakan tanah,” terangnya.

Boby mengimbau masyarakat di dataran tinggi tetap waspada menghadapi musim penghujan.

Kecamatan Kare, Dagangan, dan Gemarang masuk zona rawan.

“BMKG memprediksi puncak hujan Januari mendatang, tapi perubahan iklim bisa saja lebih cepat. Warga harus tetap siaga,” tandasnya.

Salah satu warga, Mbah Syawal, 70, mengaku masih waswas setiap kali hujan turun.

“Kalau malam hujan, kami langsung keluar rumah. Ada sepuluh rumah terdampak. Kalau dipasang alat seperti di Tegir itu, kami bisa lebih tenang,” ujarnya. (ryu/aan)

Editor : Hengky Ristanto
#potensi longsor #dagangan #ews #bpbd madiun #BPBD Jatim #tanah retak Morosowo #Boby Saktia Lubis #madiun