Jawa Pos Radar Madiun – Retakan tanah di Desa Mendak, Kecamatan Dagangan, kian mengkhawatirkan.
Hasil survei lapangan tim kaji cepat dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, BPBD, dan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jawa Timur, Jumat (7/11), menunjukkan kondisi tanah di kawasan tersebut sudah rapuh dan berpotensi longsor.
Muhammad Harris Miftakhul Fajar dari Divisi Teknik Geofisika ITS menjelaskan, retakan di Mendak memiliki karakter vertikal dan menyebar sekitar 50 meter.
“Retakan ini bisa menyebabkan penurunan tanah. Dari hasil observasi drone dan alat geologi, tanah di sana sudah sangat lapuk,” terangnya.
Ia menambahkan, pelapukan terjadi karena posisi Mendak berada di lereng gunung dengan aktivitas geotermal di sekitar Ngebel.
Ketebalan lapisan tanah lapuk mencapai 10 meter, membuat pergerakan tanah bisa terus terjadi meski musim hujan baru dimulai.
“Faktor air rumah tangga yang meresap lewat saluran terbuka juga mempercepat pergerakan tanah. Ini harus segera ditangani,” ujarnya.
Tim ITS merekomendasikan pemasangan sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS) di titik rawan untuk memantau potensi longsor.
Kajian mendalam lanjutan akan dilakukan untuk menentukan langkah teknis mitigasi jangka panjang. (ryu/aan)
Editor : Hengky Ristanto