Jawa Pos Radar Madiun – Kesenian dongkrek sebagai warisan budaya asli Kabupaten Madiun terus dijaga.
Sanggar Dongkrek Krido Sakti menjadi salah satu penggerak utama pelestarian seni tradisi yang lahir dari perjalanan panjang leluhur Desa Mejayan itu.
Pimpinan sanggar Walgito menyebut, dongkrek tak sekadar tontonan.
Kesenian ini lahir dari upaya masyarakat masa lampau menghalau pagebluk melalui simbol-simbol magis.
“Dongkrek ini lahir dari sejarah panjang perjuangan leluhur. Kelestariannya menjadi tanggung jawab bersama masyarakat Madiun,” katanya.
Salah satu pusat pelestarian berada di Situs Rumah Palang Mejayan.
Rumah asli Eyang Palang—tokoh penting dalam sejarah dongkrek—menyimpan sejumlah peninggalan seperti arca lingga yoni, Siwa, dan Ganesha.
Benda-benda itu menggambarkan proses spiritual dalam penciptaan dongkrek.
“Rumah ini dulunya tempat membuat topeng dan merancang tarian dongkrek. Pelestariannya sangat penting sebagai bukti sejarah,” lanjutnya.
Nilai historis dongkrek tidak hanya tercermin pada gerak tari, tetapi juga pada lelaku yang melatarbelakanginya.
Salah satunya wangsit berupa sinar putih dengan cemeti janur kuning yang diyakini sebagai petunjuk kelahiran kesenian tersebut.
“Itu bagian dari cerita yang kami jaga melalui situs dan tradisi,” imbuh Walgito.
Dia menegaskan bahwa keberlanjutan dongkrek membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Selain sanggar, perlindungan terhadap situs budaya juga krusial sebagai sumber pengetahuan bagi generasi muda.
Pertunjukan dongkrek kini dapat digelar kapan saja sebagai seni khas Madiun, namun unsur sakral tetap dipertahankan.
“Selama situs dan tradisinya dirawat, dongkrek akan tetap hidup dan menjadi kebanggaan Kabupaten Madiun,” pungkasnya. (ryu/aan)
Editor : Hengky Ristanto