Jawa Pos Radar Madiun – Melonjaknya harga kebutuhan pokok menjelang akhir tahun terus diantisipasi Pemkab Madiun bersama Pemprov Jawa Timur.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni intervensi harga melalui pasar murah.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan, kenaikan harga menjelang hari besar keagamaan merupakan pola yang berulang setiap tahun akibat meningkatnya kebutuhan masyarakat.
‘’Memang menjelang hari besar seperti Natal dan Tahun Baru, setelahnya ada Ramadan dan Idul Fitri, ini harga cenderung naik karena kebutuhan di masyarakat meningkat,” ujar Khofifah usai meninjau kegiatan Pasar Murah di Lapangan Mojopurno, Kecamatan Wungu, beberapa waktu lalu.
Pemprov Jatim pun terus mengintensifkan pelaksanaan pasar murah di berbagai daerah.
Langkah ini dinilai efektif untuk menekan laju inflasi sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Khofifah juga menekankan agar lokasi pasar murah tidak berdekatan dengan pasar tradisional agar tidak mengganggu aktivitas pedagang setempat.
“Saya selalu minta Disperindag (Dinas Perdagangan) ketika ada kunjungan kerja disertai dengan pasar murah, dan letaknya tidak berdekatan dengan pasar tradisional,” tuturnya.
Pelaksanaan pasar murah di Wungu disambut antusias warga.
Tanpa syarat khusus, masyarakat dapat membeli berbagai kebutuhan pokok dengan harga lebih rendah dibandingkan pasar umum.
Warga rela mengantre untuk mendapatkan minyak goreng, beras, hingga daging ayam.
‘’Lumayan selisihnya ada Rp 3 ribu lebih murah dibanding ditoko umumnya, membantu kami sekali saat harga-harga mulai mahal seperti beras itu tinggi di Rp 14 ribu per kilogram,” kata Sudarmini, warga Desa Brumbun. (ryu/aan)
Editor : Hengky Ristanto