Jawa Pos Radar Madiun – Rencana operasional Sekolah Rakyat (SR) pada 2026 bukan sekadar wacana.
Pembangunan SR di Kelurahan Nglames, Kecamatan Madiun, kini dikebut untuk mengejar target operasional pada tahun ajaran baru.
Selasa (6/1), tim teknis Kementerian PU Wilayah IV Surabaya meninjau langsung proses pengurukan lahan tahap awal pembangunan SR.
“Sesuai kontrak, pekerjaan sudah berjalan sejak 23 Desember 2025 dan ditargetkan selesai pada 19 Agustus 2026,” ungkap Tim Teknis Pembangunan SR Jatim II Kementerian PU Wilayah IV Surabaya, Betania Mahendrayu.
Betania—akrab disapa Nia—menjelaskan, tahap awal difokuskan pada pengurukan lahan sebelum pekerjaan pondasi dimulai.
Aktivitas alat berat sudah tampak sejak awal Januari, terutama di sisi utara area proyek.
“Sekitar 50 hari pertama merupakan masa pemancangan. Jadi Januari hingga Februari menjadi periode paling padat dengan lalu lintas alat berat,” jelasnya.
Sesuai site plan, SR di Nglames akan dibangun sebanyak 25 unit bangunan.
Fasilitas tersebut mencakup gedung pendidikan jenjang SD, SMP, dan SMA—masing-masing dua ruang kelas—serta asrama siswa, lapangan sepak bola, dan sejumlah bangunan pendukung lainnya.
Seluruh bangunan dikerjakan secara paralel guna mengejar waktu pelaksanaan yang relatif singkat.
“Semua titik bangunan dikerjakan serentak, sehingga tenaga kerja akan sangat ramai,” tambah Nia.
Untuk memastikan gedung pendidikan dan asrama siap digunakan sebelum tahun ajaran baru, pekerjaan akan dilakukan siang dan malam.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan debu dan kebisingan di sekitar lokasi proyek.
“Kami sudah meminta izin serta pengertian masyarakat karena pekerjaan dilakukan lembur, baik siang maupun malam,” ujarnya.
Pembangunan SR di Nglames dikerjakan oleh PT Brantas Abipraya, yang ditetapkan melalui proses lelang di tingkat pusat.
Proyek ini masuk dalam paket Pembangunan Sekolah Rakyat Jawa Timur II yang mencakup empat daerah, yakni Kabupaten Madiun, Nganjuk, Ngawi, dan Pacitan.
“Nilai kontrak totalnya Rp 911 miliar untuk empat lokasi, dengan rencana anggaran biaya yang bersifat fleksibel,” pungkas Nia. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto