MADIUN – Identitas Kabupaten Madiun sebagai Kampung Pesilat Indonesia terus dimatangkan oleh pemerintah kabupaten.
Upaya tersebut terlihat melalui forum diskusi bersama para ketua umum perguruan pencak silat se-Kabupaten Madiun yang digelar bersama Bupati Hari Wuryanto di Jogjakarta, Sabtu (24/1).
Forum strategis tersebut menjadi ruang dialog untuk menyamakan persepsi sekaligus memperkuat soliditas antarperguruan pencak silat di Kabupaten Madiun.
“Kami ingin komunikasi dan kebersamaan ini terus terjaga, bukan hanya di tingkat pimpinan, tetapi sampai ke akar rumput,” ujar Hari Wuryanto, yang akrab disapa Mas Hari Wur.
Diskusi itu dihadiri Pelaksana Tugas (Pj) Sekretaris Daerah Kabupaten Madiun Sigit Budiarto, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Madiun Hestu Wiradriawan, serta jajaran pengurus perguruan pencak silat.
Bupati menekankan pentingnya semangat saling mendukung antarorganisasi pencak silat agar tidak berjalan secara eksklusif.
Ia juga meminta para ketua umum perguruan menjadi jembatan persaudaraan demi terciptanya harmoni dan kondusivitas di Kabupaten Madiun.
“Kalau satu perguruan punya kegiatan, perguruan lain harus hadir mendukung. Inilah wajah Kampung Pesilat yang kita harapkan,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga menegaskan keberlakuan Peraturan Bupati Madiun Nomor 48 Tahun 2025 tentang Kabupaten Madiun Kampung Pesilat Indonesia sebagai payung hukum resmi.
Regulasi tersebut menjadi tonggak penting dalam memperkuat legitimasi Madiun sebagai pusat perguruan pencak silat.
“Perbup ini bukan sekadar aturan administratif, tetapi komitmen pemerintah daerah dalam memayungi dan mengangkat harkat pencak silat. Identitas Madiun sebagai Kampung Pesilat kini memiliki dasar hukum yang kuat dan diakui secara formal,” jelasnya.
Peraturan tersebut juga mengatur penguatan pelestarian budaya serta pengembangan pariwisata berbasis pencak silat.
Penguatan identitas Kampung Pesilat didorong melalui integrasi di dunia pendidikan, mulai penyusunan modul pembelajaran, kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler, hingga penggunaan busana bernuansa Kampung Pesilat bagi aparatur sipil negara (ASN) dan pelajar pada hari tertentu.
Selain itu, pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dilakukan melalui diplomasi budaya, agenda seni tahunan, promosi produk UMKM dengan logo Kampung Pesilat, hingga rencana pendirian Museum Kampung Pesilat.
Upaya tersebut diperkuat dengan pembentukan Paguyuban Kampung Pesilat Indonesia dari tingkat kabupaten hingga desa.
“Ini komitmen pemerintah daerah agar pencak silat Madiun tidak hanya berjaya di rumah sendiri, tetapi juga menjadi barometer budaya bela diri yang disegani di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto