Jawa Pos Radar Madiun – Kreativitas mengolah limbah menjadi produk bernilai jual tinggi ditunjukkan Nurul Huda, warga Desa Bacem, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun.
Mantan pekerja migran ini sukses menekuni usaha lampu hias berbahan paralon yang kini diminati pasar luas dan mampu menghasilkan omzet jutaan rupiah.
Usaha tersebut dirintis Huda sepulangnya dari Malaysia, bertepatan dengan masa pandemi Covid-19.
Keterbatasan lapangan pekerjaan memaksanya berpikir keras demi mencukupi kebutuhan keluarga.
Dari kondisi itulah, muncul ide memanfaatkan sisa paralon yang selama ini hanya dianggap sebagai limbah bangunan.
“Awalnya hanya iseng mengisi waktu luang,” ujar Huda.
Dengan belajar secara otodidak melalui video di internet, Huda mulai mengolah paralon bekas menjadi lampu hias bernilai seni.
Proses pembuatannya dimulai dari pemotongan paralon sesuai ukuran, penghalusan permukaan menggunakan amplas, hingga pemanasan dan pembentukan dengan cetakan khusus.
“Setelah dibentuk, paralon dipotong sesuai motif, dirangkai, lalu dicat sesuai pesanan,” jelasnya.
Pada awalnya, Huda hanya memproduksi satu hingga dua unit lampu gantung.
Namun, setelah dipasarkan secara daring dengan bantuan anaknya, respons konsumen terus meningkat. Permintaan yang stabil membuat usaha tersebut berkembang pesat.
Saat ini, Huda mempekerjakan delapan karyawan untuk membantu proses produksi.
Terdapat sembilan model lampu hias yang ditawarkan dengan harga mulai Rp 70 ribu hingga lebih dari Rp 100 ribu per unit, tergantung desain dan ukuran.
Dalam satu hari, produksi bisa mencapai sekitar 40 unit lampu hias. Produk tersebut dipasarkan secara online dan telah menjangkau konsumen dari berbagai daerah.
“Alhamdulillah, dari paralon bekas ini bisa menjadi sumber penghidupan keluarga saya selama beberapa tahun terakhir,” pungkasnya. (ryu/aan)
Editor : Andi Chorniawan