Jawa Pos Radar Madiun – Puncak arus mudik di Kabupaten Madiun mulai terasa pada 18–20 Maret.
Namun, kepadatan terparah diprediksi terjadi H+1 Lebaran, terutama di kawasan Dumpil.
Kasat Lantas Polres Madiun AKP Andrian Permana menyebut lonjakan kendaraan bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dibanding hari normal.
’’Yang paling terlihat justru H+1, terutama di Dumpil,’’ ujarnya, kemarin (18/3).
Saat ini, arus lalu lintas sudah meningkat sekitar 50 persen. Diperkirakan melonjak hingga 100–200 persen saat puncak mudik.
Volume kendaraan diprediksi mencapai 8.000–9.000 kendaraan per hari.
Menurut Andrian, karakter arus di Madiun berbeda. Setelah puncak mudik, mobilitas kembali meningkat saat Lebaran hari kedua.
Pergerakan didominasi aktivitas silaturahmi antarwilayah seperti ke Magetan, Ngawi, hingga Ponorogo.
’’Biasanya masyarakat mulai bergerak lagi di hari kedua Lebaran,’’ katanya.
Kondisi tersebut memicu kepadatan di jalur arteri dan simpul persimpangan.
Untuk arus balik, puncak diprediksi terjadi 23–24 Maret. Meski lebih tersebar, volume kendaraan tetap tinggi.
’’Arus balik lebih terpecah, tapi tetap tinggi,’’ tegasnya.
Polisi menyiapkan rekayasa lalu lintas di sejumlah titik rawan.
Di Simpang Pagotan, arus dari Ponorogo menuju Kota Madiun dialihkan melalui Kebonsari–Singgahan–Bacem–Kaibon. Sebaliknya, dari arah Kota Madiun melalui Sangen–Lentera Hati–Dagangan–Slambur.
Rekayasa juga diterapkan di jalur arteri Madiun–Surabaya, khususnya kawasan Nglames dan Tol Dumpil.
Dari arah Kota Madiun dialihkan melalui Gajah Soreng–Tiron–Candi. Sedangkan dari arah Surabaya melalui Balerejo–Kebonagung–Dimong.
’’Tujuannya agar arus tetap bergerak dan tidak terjadi kemacetan total,’’ pungkasnya. (odi/her)
Editor : Hengky Ristanto