Jawa Pos Radar Madiun – Layanan pengangkutan sampah di Kabupaten Madiun mengalami penyesuaian.
Frekuensi pengambilan dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dikurangi dampak efisiensi anggaran.
Kepala DLH Kabupaten Madiun M Zahrowi mengatakan, pengurangan tersebut tidak terlepas dari turunnya dana transfer dari pemerintah pusat.
’’Ya, itu pasti. Karena berbicara pengelolaan sampah tidak lepas dari support sumber daya. Di tahun ini ada pengurangan, dan mungkin semua daerah juga mengalami hal yang sama,’’ ujarnya, Minggu (29/3).
Meski demikian, DLH memastikan layanan persampahan tetap berjalan. Berbagai strategi dilakukan agar operasional tetap optimal di tengah keterbatasan anggaran.
’’Tapi kami tidak patah semangat. Rutinitas tetap jalan, kami berstrategi agar pengelolaan di setiap titik tetap bisa berjalan dengan baik,’’ tambahnya.
Zahrowi menjelaskan, frekuensi pengangkutan yang sebelumnya bisa lima hingga enam kali dalam sepekan kini harus dikurangi.
’’Yang semula dalam satu minggu bisa lima atau enam kali, sekarang kami bersiasat menjadi kurang dari biasanya. Mungkin dua atau tiga kali,’’ jelasnya.
Kondisi ini berpotensi memicu penumpukan sampah, terutama di TPS pasar yang memiliki volume tinggi.
Karena itu, DLH mengimbau masyarakat ikut berperan aktif mengurangi timbulan sampah dari sumbernya.
Masyarakat juga diminta tidak membuang sampah sembarangan, apalagi ke TPS yang bukan peruntukannya.
’’Biar tidak berdampak besar, ayo dikurangi lagi volume timbulan sampah. Jangan hanya ingin rumahnya bersih, tapi mengotori wilayah lain,’’ tegasnya.
Selain itu, optimalisasi TPS 3R berbasis masyarakat juga didorong agar sampah yang dibuang ke TPA hanya berupa residu.
DLH juga mengingatkan agar TPS pasar digunakan sesuai peruntukan, yakni untuk aktivitas pedagang.
’’Harapannya masyarakat jangan buang sampah di TPS pasar. Itu diperuntukkan bagi pedagang, bukan umum,’’ tandasnya. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto