Jawa Pos Radar Madiun – Pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Madiun terus dikebut. Hingga awal April, progres fisik proyek yang digarap PT Brantas Abipraya itu telah mencapai 18 persen untuk lokasi Kabupaten Madiun.
Project Manager Proyek SR Jatim 2, Dwi Handoko, mengatakan secara keseluruhan empat lokasi di Jawa Timur—Madiun, Ngawi, Nganjuk, dan Pacitan—baru mencapai sekitar 14 persen.
’’Kalau secara total, SR Jatim 2 ada empat lokasi, Madiun, Ngawi, Nganjuk dan Pacitan sekitar 14 persen,’’ ujarnya, kemarin (1/4).
Baca Juga: Progres 18 Persen, SR Madiun Ditarget Rampung Juni
Menurut Dwi, capaian 18 persen di Kabupaten Madiun didominasi pekerjaan struktur yang kini menjadi fokus utama.
Pekerjaan meliputi pondasi, kolom, balok, hingga pengecoran lantai yang dikerjakan paralel di sejumlah titik.
’’Saat ini memang kami fokus di struktur, karena itu menjadi kunci untuk masuk ke tahap berikutnya,’’ jelasnya.
Pembangunan mencakup gedung SD, SMP, SMA, gedung serbaguna, hingga rumah susun guru dan asrama siswa.
Di tahap awal, proyek sempat terkendala klaim tanaman warga karena lokasi sebelumnya merupakan area persawahan.
Baca Juga: Progres SR Ngawi Baru 10 Persen, Wamen PU Minta Dikebut
Proses negosiasi memakan waktu hampir satu bulan. Namun kini seluruh lahan seluas sekitar 5.800 meter persegi telah siap dikerjakan.
’’Alhamdulillah sekarang sudah bisa kami kerjakan full di seluruh area,’’ katanya.
Untuk percepatan, seluruh material proyek telah diamankan sejak awal. Termasuk kebutuhan struktur hingga arsitektur dan mekanikal elektrikal plumbing (MEP).
Durasi efektif pekerjaan hanya sekitar tiga bulan. Padahal kontrak awal menargetkan selesai Agustus. Namun dipercepat menjadi Juni sesuai instruksi pemerintah pusat.
Baca Juga: Pemkot Madiun Siapkan Lahan 8 Hektare untuk Sekolah Rakyat, Tunggu Restu Kemensos dan PU
’’Karena ada instruksi untuk mendukung penerimaan siswa baru, maka kami harus selesai lebih cepat,’’ ujarnya.
Jumlah tenaga kerja saat ini sekitar 301 orang. Ditargetkan bertambah menjadi 450–500 orang pada pertengahan April.
Sebagian besar pekerja merupakan tenaga terampil dari luar daerah. Tenaga lokal hanya sekitar 10–15 persen.
’’Karena ini pekerjaan teknis, jadi memang butuh tenaga spesialis,’’ jelasnya. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto