MADIUN – Tragedi tewasnya Rama di bekas galian C Dusun Purworejo, Desa Tulung, memicu kemarahan warga.
Mereka mendesak pemerintah dan pihak terkait segera mengambil tindakan tegas karena lokasi tersebut dinilai berbahaya.
Warga menilai kejadian ini bukan yang pertama. Dalam kurun waktu setahun terakhir, galian tersebut sudah dua kali memakan korban jiwa.
“Ini sudah dua kali, Pak. Harus ada tindak lanjut,” tegas Maridji, warga setempat, Rabu (15/4).
Desakan warga tidak hanya sebatas penutupan lokasi. Mereka juga meminta agar persoalan bekas galian C diproses secara hukum.
Menurut warga, peringatan sudah beberapa kali disampaikan, namun tidak pernah ditindaklanjuti secara nyata.
“Mintanya ya diproses hukum saja, Pak. Sudah diperingati, tapi buktinya nggak ada,” ujarnya.
Kondisi galian yang dibiarkan terbuka dan tergenang air dinilai menjadi ancaman serius, terutama bagi anak-anak yang sering bermain di sekitar lokasi.
Karena itu, warga meminta solusi konkret dengan menutup atau menguruk bekas galian tersebut.
“Warga itu mintanya diuruk saja, tapi kenyataannya nggak diuruk,” imbuh Maridji.
Kekecewaan juga diarahkan kepada pemerintah desa dan pihak terkait yang dinilai lamban merespons aspirasi masyarakat.
Meski sudah berulang kali disampaikan, belum ada langkah nyata yang terlihat di lapangan.
“Responsnya iya-iya terus, tapi sampai sekarang belum ada,” keluhnya.
Tragedi yang menimpa Rama menambah daftar panjang korban di lokasi tersebut. Sebelumnya, pada 27 April tahun lalu, seorang bocah SD bernama Rochmad Yusuf Alfarizal (11) juga meninggal dunia setelah tenggelam di bekas galian yang sama.
Saat itu korban berpamitan bermain sekitar pukul 13.00, namun tidak kunjung pulang hingga sore hari.
Keluarga kemudian melakukan pencarian hingga ke area galian.
Korban akhirnya ditemukan sekitar pukul 20.00 dalam kondisi tidak bernyawa di dasar galian yang tergenang air.
Dua kejadian dalam waktu berdekatan membuat warga semakin resah. Mereka khawatir lokasi tersebut kembali menimbulkan korban jika tidak segera ditangani.
“Biar nggak makan korban lagi,” teriak salah satu warga saat proses pencarian.
Warga berharap pemerintah segera turun tangan secara serius. Mulai dari penelusuran legalitas tambang hingga penutupan permanen lokasi yang dianggap membahayakan.
“Harus ada tindakan, jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi,” tandas Maridji. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto