Jawa Pos Radar Madiun - UPT Puskesmas Sawahan, Kabupaten Madiun, memperkuat sinergi lintas sektor untuk meningkatkan mutu layanan kesehatan dan mengidentifikasi persoalan di masyarakat.
Langkah itu diwujudkan melalui Lokakarya Tri Bulanan Lintas Sektor dan Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di aula UPT Puskesmas Sawahan, Kamis (30/4).
Kepala UPT Puskesmas Sawahan dr Demma Kristin Wibawanti menegaskan, kegiatan ini merupakan agenda rutin yang digelar setiap tiga bulan.
“FGD ini sudah beberapa kali dilakukan. Dalam satu tahun empat kali. Ini merupakan agenda rutin puskesmas tiap tiga bulan sekali. Lalu per bulan kami membahas permasalahan dalam lingkup puskesmas dulu sebelum disebarkan ke masyarakat yang dibantu lintas sektor,” ujarnya.
Sebanyak 50 peserta terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari unsur Muspika Plus, mulai camat, kapolsek, danramil, tokoh masyarakat, KUA, PKK, hingga perwakilan desa.
Turut hadir pula BPJS Kesehatan Madiun dan Bank Jatim Cabang Caruban sebagai mitra strategis. “Koordinasi lintas sektor seperti ini memang rutin kami lakukan,” katanya.
Baca Juga: Hasil Uber Cup 2026 Jepang vs Thailand Perempat Final: Menang 3-1, Akane Yamaguchi Cs ke Semifinal
Dalam diskusi, sejumlah persoalan mengemuka, terutama terkait BPJS Kesehatan. Banyak warga mengeluhkan status kepesertaan yang tiba-tiba tidak aktif.
“Jadi bisa didiskusikan langsung ke sumbernya. Lalu Bank Jatim Cabang Caruban yang juga akan memberikan informasi mengenai produk dan program unggulnya kepada kami,” jelas dr Demma.
Selain itu, FGD juga membahas isu kesehatan lain seperti tuberkulosis (TBC), Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG), hingga peningkatan kewaspadaan terhadap campak.
Menurut dr Demma, campak menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan imunisasi anak yang melibatkan peran desa dan masyarakat.
“Kalau campak bermula dari imunisasi pada anak-anak yang otomatis berhubungan dengan desa. Kalau berhubungan dengan desa, akan banyak orang yang mengetahui dan ada juga yang takut imunisasi,” terangnya.
“Sebagian kecil orang tua yang menolak imunisasi, maka perlu bantuan lintas sektor untuk menguatkan di desa dan kecamatan. Sehingga penting sekali FGD ini,” sambung Demma.
Ia menegaskan pentingnya imunisasi bagi bayi usia 9 bulan dan 18 bulan sebagai langkah pencegahan.
“Selain itu, para orang tua tidak perlu takut atau khawatir pada efek dari imunisasi itu sendiri karena dampak imunisasi ini untuk membentuk antibodi, mencegah penyakit infeksi berbahaya, dan mengurangi risiko kematian atau cacat permanen,” imbuhnya.
Menurut dr Demma, persoalan kesehatan bukan hanya tanggung jawab tenaga medis, melainkan membutuhkan dukungan lintas sektor.
“Sehingga saat ada masalah kesehatan apapun kita bisa gercep tidak sampai terjadi wabah dan melebar kemana-mana,” pungkasnya.
Sementara itu, Camat Sawahan Muhammad Sholeh yang membuka kegiatan tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menjaga kesehatan masyarakat.
“Kesehatan itu sifatnya dinamis atau bisa berubah. Sehingga sebagai pemangku wilayah Kecamatan Sawahan sudah tugasnya mewujudkan program Kabupaten Madiun Bersahaja (bersih, sehat, dan sejahtera), salah satunya dengan FGD ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, meski saat ini belum ada kasus campak di Kabupaten Madiun, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan.
“Terkait kasus campak yang cukup meningkat di Indonesia, Alhamdulillah Kabupaten Madiun tidak ada kasus campak. Namun kami harus antisipasi meskipun tidak ada kasus di wilayah kami. Karena campak itu bisa menular sewaktu-waktu,” sebutnya.
Camat Sawahan itu juga memastikan kehadiran BPJS Kesehatan dalam forum tersebut untuk menjawab keluhan masyarakat.
“Sehingga nanti tim BPJS akan menjelaskan alasan, bagaimana pengaktifannya, dan hal lain lebih lengkapnya,” tutupnya. (eln/*)
Editor : Mizan Ahsani