Jawa Pos Radar Madiun – Akses warga Desa Glonggong, Kecamatan Balerejo, sempat terputus akibat amblesnya Jembatan Plumpung.
Pemkab Madiun langsung mengambil langkah penanganan darurat agar mobilitas masyarakat tidak terganggu terlalu lama.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Madiun, Boby Saktia Putra Lubis, mengatakan perbaikan sementara dilakukan dengan pemasangan baja jenis wide flange (WF).
“Pilar yang turun kita potong, nanti disambung dengan WF sebagai penopang sementara,” ujarnya, Selasa (5/5).
Kerusakan terjadi pada pilar sisi timur jembatan. Pemotongan dilakukan untuk mencegah kerusakan merembet ke struktur lainnya.
Penanganan darurat ini bersifat sementara dan memiliki keterbatasan. Jembatan nantinya hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.
DPUPR juga menyiapkan bordes sebagai lantai sementara untuk menunjang akses.
“Target dua sampai tiga minggu sudah bisa dilewati roda dua,” jelasnya.
Opsi pembangunan jembatan darurat dari bambu atau sesek tidak dipilih karena dinilai berisiko tinggi.
Selain kondisi jembatan yang cukup tinggi, ketersediaan material juga menjadi kendala.
“Kalau pakai sesek justru berbahaya. Kami pilih konstruksi yang lebih aman,” tegas Boby.
Percepatan penanganan ini menjadi prioritas agar aktivitas warga, terutama pelajar, tidak terganggu.
Sementara untuk jangka panjang, rencana pembangunan ulang jembatan sebenarnya sudah memiliki Detail Engineering Design (DED) sejak 2022 dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp 26 miliar.
Namun, realisasi pembangunan masih menunggu kepastian anggaran.
Pemkab Madiun telah mengusulkan bantuan ke pemerintah pusat, termasuk saat kunjungan anggota DPR RI beberapa waktu lalu.
“Sudah kami usulkan, semoga bisa mendapat dukungan pusat,” pungkasnya. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto