Jawa Pos Radar Madiun – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Madiun memang mulai menurun. Namun ancamannya belum hilang.
Kekerasan fisik masih mendominasi, sementara kecanduan gadget mulai memunculkan persoalan baru pada anak.
Dinas KB-PPPA Kabupaten Madiun mencatat terdapat 13 kasus kekerasan sepanjang Januari hingga 7 Mei 2026.
Dari jumlah tersebut, 12 kasus menimpa anak dan satu kasus melibatkan perempuan dewasa.
Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Dinas KB-PPPA Kabupaten Madiun Yeni Mayawati mengatakan seluruh kasus yang masuk sudah mendapatkan penanganan.
“Dari Januari hingga 7 Mei ada 13 kasus yang masuk dan semuanya sudah tertangani,” ujarnya, kemarin (12/5).
Meski lebih rendah dibanding tahun lalu yang mencapai lebih dari 40 kasus, kekerasan fisik masih menjadi kategori paling dominan.
Data Dinas KB-PPPA mencatat terdapat empat kasus kekerasan fisik, tiga kekerasan seksual, satu eksploitasi anak, satu kekerasan verbal, serta empat kasus lain yang berkaitan dengan perilaku menyimpang akibat kecanduan gadget.
“Yang paling dominan kategori fisik dan lainnya,” beber Yeni.
Kategori “lainnya” kini menjadi perhatian serius pemkab.
Sebab, sejumlah anak disebut mengalami gangguan perilaku akibat kecanduan gawai hingga menolak bersekolah.
Selain itu, kasus eksploitasi anak juga masih ditemukan.
Salah satunya anak yang dipaksa orang tuanya berjualan keliling hingga meninggalkan sekolah.
“Pak camat sendiri yang melapor. Kami langsung turun melakukan advokasi agar anak bisa kembali sekolah,” katanya.
Yeni menambahkan, kesadaran masyarakat untuk melapor kini mulai meningkat.
Bahkan kasus kekerasan verbal dalam keluarga mulai berani diadukan warga.
Salah satu kasus terjadi di Kecamatan Geger, ketika seorang anak merasa tertekan karena sering dibentak dan dikucilkan keluarga saat ibunya bekerja sebagai PMI di Taiwan.
Menurut dia, faktor ekonomi, pola asuh, hingga pengaruh lingkungan pergaulan masih menjadi pemicu utama kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Karena itu, Dinas KB-PPPA terus menggencarkan edukasi pencegahan kekerasan dan bullying melalui program Goes to School serta pelibatan organisasi perempuan di masyarakat.
“Tahun kemarin kami juga menyampaikan materi TPPO,” tandasnya. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto