Jawa Pos Radar Madiun – Kenaikan harga cabai ternyata tidak selalu membawa keuntungan bagi petani.
Di Desa Kebonsari, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, petani justru dibuat pusing akibat gagal panen saat harga cabai sedang tinggi.
Serangan jamur fusarium membuat ribuan tanaman cabai keriting mengering dan mati sebelum masa panen maksimal.
Kondisi tersebut dipicu cuaca tak menentu saat peralihan musim penghujan ke kemarau.
Petani cabai asal Desa Kebonsari Marto Suwadi mengaku hampir 2.000 tanaman cabainya mati dari total sekitar 3.300 tanaman yang ditanam.
“Gejalanya itu cepat sekali, misal hari ini mulai layu, besoknya itu langsung kering dari batang, daunnya,” ujarnya, Selasa (26/5).
Menurut Marto, jamur fusarium menyerang akar hingga batang tanaman sehingga cabai mendadak layu lalu mengering dalam waktu singkat.
Akibat serangan tersebut, hasil panennya turun drastis.
Jika biasanya mampu menghasilkan hingga 10 kuintal cabai, kini hanya sekitar lima kuintal yang bisa dipanen.
“Itu pun sebagian terselamatkan setelah saya beri pengobatan dengan intensif, banyak obat saya berikan setiap 3 hari sekali,” jelasnya.
Padahal, harga cabai keriting di tingkat petani saat ini tergolong tinggi.
Per kemarin, harga cabai mencapai Rp 36 ribu hingga Rp 37 ribu per kilogram.
Kondisi itu membuat petani semakin terpukul karena potensi keuntungan besar justru hilang akibat serangan penyakit tanaman.
“Tentu rugi banyak petani, karena harganya sedang bagus tapi hasil panennya rendah,” katanya.
Marto berharap pemerintah daerah memberi perhatian lebih terhadap pengendalian organisme pengganggu tanaman, terutama saat perubahan musim.
“Harapannya ada bantuan dari pemerintah untuk pengendalian serangan hama maupun jamur atau organisme pengganggu tanaman lainnya,” tandasnya. (ryu/aan)
Editor : Hengky Ristanto