Jawa Pos Radar Madiun – Musim kemarau yang diprediksi berlangsung dalam beberapa bulan ke depan membuat BPBD Kabupaten Madiun meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sejumlah wilayah yang masuk kawasan hutan Perhutani kini menjadi fokus pemantauan karena dinilai memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi dibanding daerah lainnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Madiun Boby Saktia Putra Lubis mengatakan, hasil pemetaan menunjukkan sedikitnya tiga kecamatan masuk kategori rawan karhutla, yakni Kecamatan Dagangan, Gemarang, dan Kare.
Ketiga wilayah tersebut memiliki kawasan hutan yang cukup luas sehingga berpotensi mengalami kebakaran saat kondisi cuaca semakin kering.
"Pemetaan sudah kami lakukan dan titik rawan berada di tiga kecamatan tersebut karena masuk wilayah Perhutani. Kami akan terus melakukan pemantauan serta meningkatkan koordinasi agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat jika terjadi kebakaran," ujarnya, kemarin (4/6).
Sebagai langkah antisipasi, BPBD telah menyiapkan Tim Reaksi Cepat (TRC) yang selama ini berpengalaman menangani kejadian kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kabupaten Madiun.
Selain itu, koordinasi dengan Perum Perhutani juga akan diperkuat untuk mempercepat respons apabila ditemukan titik api di kawasan hutan.
"Teman-teman TRC sudah terbiasa melakukan penanganan kebakaran hutan. Kami juga akan berkoordinasi dengan Perhutani apabila terjadi kejadian di lapangan," katanya.
Menurut Boby, penanganan karhutla memiliki karakteristik berbeda dibanding kebakaran bangunan maupun permukiman yang umumnya ditangani oleh pemadam kebakaran (Damkar).
Medan yang sulit dijangkau serta lokasi kebakaran yang berada di kawasan hutan membuat proses pemadaman lebih banyak dilakukan secara manual oleh petugas di lapangan.
Karena itu, kesiapan personel dan koordinasi lintas instansi menjadi faktor penting dalam upaya pengendalian kebakaran hutan selama musim kemarau.
"Kebakaran hutan itu bukan menjadi tugas Damkar, melainkan BPBD. Karena penanganannya banyak dilakukan secara manual, terutama ketika alat pemadam tidak memungkinkan menjangkau titik lokasi kebakaran," pungkasnya. (ryu/aan)
Editor : Hengky Ristanto