Jawa Pos Radar Madiun – Upaya penanganan stunting di Kabupaten Madiun menunjukkan hasil positif.
Berdasarkan hasil bulan timbang Februari 2026, prevalensi stunting tercatat turun menjadi 5,23 persen, mendekati target nasional jangka panjang yang ditetapkan sebesar 5 persen pada 2045.
Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Bupati Madiun Hari Wuryanto saat menghadiri rapat koordinasi stunting di Desa Nglambangan, Kecamatan Wungu, kemarin (17/6).
Menurut Hari, keberhasilan menekan angka stunting tidak lepas dari sinergi berbagai pihak, mulai pemerintah daerah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat.
“Hasil rembug stunting ini luar biasa. Kami berharap ke depan bisa diturunkan lagi untuk menyiapkan generasi masa depan sekaligus membantu pemerintah pusat,” ujarnya.
Salah satu wilayah yang dinilai berhasil menekan angka stunting adalah Kecamatan Wungu.
Kecamatan tersebut menempati peringkat ketiga terbaik di Kabupaten Madiun dengan prevalensi stunting sebesar 6,72 persen.
Meski demikian, Pemkab Madiun masih menghadapi persoalan perbedaan data.
Hasil bulan timbang yang dilakukan menggunakan alat ukur elektronik valid menunjukkan angka stunting sebesar 5,23 persen dari sekitar 97 persen balita yang berhasil diukur.
Namun, data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) melalui metode sampling masih mencatat prevalensi stunting Kabupaten Madiun berada di angka 10,22 persen.
Perbedaan tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Untuk itu, Hari berencana mengundang sejumlah instansi dari tingkat provinsi hingga pusat pada pelaksanaan bulan timbang Agustus mendatang.
Instansi yang akan dilibatkan antara lain Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Kementerian Kesehatan, serta Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pusat maupun provinsi.
“Kami ingin semua pihak hadir menyaksikan langsung agar data di BPS nanti bisa diubah atau disesuaikan dengan realita lapangan,” jelasnya.
Hari optimistis target bebas stunting bisa dicapai lebih cepat dari target nasional.
Apalagi berbagai program intervensi saat ini terus diperkuat, termasuk pemberian makanan tambahan dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut dia, manfaat program tersebut mulai terlihat melalui penurunan angka stunting yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
“Dampak pemberian makanan tambahan termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) sangat terasa. Kini intervensinya menyeluruh untuk B3 atau ibu hamil, menyusui, balita, hingga lansia,” tandasnya. (ryu/aan)
Editor : Hengky Ristanto