Jawa Pos Radar Maidun – Tradisi Suroan kembali hidup di kawasan Madiun Umbul Square (MUS), Kabupaten Madiun.
Melalui agenda tahunan bertajuk Ruwat Sengkolo Bumi Projo Nusantoro ing Bumi Umbul, pengelola bersama komunitas budaya dan masyarakat setempat menggelar serangkaian ritual adat yang sarat nilai pelestarian budaya Jawa.
Kegiatan yang berlangsung dalam momentum Muharram atau Bulan Suro tersebut diawali dengan prosesi ziarah religi dan pengambilan air suci di sejumlah makam leluhur Madiun Raya sejak 18 Juni lalu.
Beberapa lokasi yang menjadi bagian dari ritual antara lain makam Kanjeng Ronggo Jumeno, Eyang Anom Besari Kuncen, Sewulan, hingga kawasan Gunung Wukir.
Direktur Madiun Umbul Square Agus Mahendra mengatakan pelaksanaan tahun ini memang dibuat lebih sederhana dibanding sebelum pandemi.
Namun, nilai filosofis dan kesakralan seluruh rangkaian tradisi tetap dipertahankan.
"Fokus kegiatan tahun ini memang lebih khidmat bersama teman-teman paguyuban kasepuhan dan warga sekitar," ujarnya kemarin (21/6).
Menjelang prosesi utama, kegiatan diawali dengan tasyakuran dan pagelaran seni tradisional berupa reog serta jaranan yang melibatkan Paguyuban Pelaku Seni Reog Madiun Raya.
Puncak acara digelar Minggu siang dengan ritual penjamasan dan kirab lima pusaka yang selama ini menjadi bagian penting dalam tradisi Suroan di MUS.
Kelima pusaka tersebut yakni Nogo Bodro, Tombak Kyai Bromo Geni, Tombak Kyai Jangkung Wulung, Kyai Betok Giring, dan Andong Pamomong.
Ketua Pangarso Para Hangesti Budaya Nusantara Mbah Irsyad menjelaskan, selain prosesi jamasan pusaka, kegiatan juga diisi dengan ritual ruwatan massal bagi masyarakat.
Ritual tersebut dimaknai sebagai upaya membersihkan diri dari berbagai sengkolo atau kesulitan hidup sekaligus memanjatkan harapan keselamatan dan keberkahan.
"Selain jamasan, juga dilaksanakan ritual ruwatan massal bagi masyarakat guna membersihkan diri dari segala sengkolo atau kesusahan hidup," jelasnya. (ryu/aan)
Editor : Hengky Ristanto