Jawa Pos Radar Madiun – Pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) 2026 di Kabupaten Madiun sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat.
Terutama terkait keamanan identitas dan data pribadi yang disampaikan kepada petugas lapangan.
Menanggapi hal tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Madiun memastikan seluruh data responden dijamin kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan statistik pemerintah.
Kepala BPS Kabupaten Madiun Wisma Eka Nurcahyanti menjelaskan, sistem pendataan saat ini sudah berbasis digital sehingga data yang diinput petugas langsung terkirim ke server BPS pusat.
“Data yang di-input teman-teman pendata di lapangan itu langsung masuk ke BPS pusat, tidak lagi melalui proses pengolahan atau entry manual di kantor BPS Kabupaten seperti dulu saat masih menggunakan kertas. Ini salah satu upaya kami menjaga keamanan data,” ujarnya, kemarin (24/6).
Menurut Wisma, masyarakat maupun pelaku usaha tidak perlu ragu memberikan informasi yang dibutuhkan petugas sensus.
Sebab, seluruh data yang dikumpulkan hanya digunakan untuk kepentingan statistik nasional.
BPS juga memastikan informasi tersebut tidak akan diteruskan kepada instansi lain, termasuk Direktorat Jenderal Pajak.
“Seluruh informasi yang dihimpun dilindungi undang-undang,” tegasnya.
Hingga hari kesembilan pelaksanaan sensus ekonomi, BPS mencatat respons masyarakat Kabupaten Madiun cukup baik.
Belum ada laporan penolakan dari responden selama proses pendataan berlangsung.
"Kami meminta bantuan masyarakat untuk menerima kedatangan petugas kami dengan baik dan kooperatif guna mempercepat progres pendataan lapangan agar tetap kontinu," katanya.
Dalam pelaksanaannya, Sensus Ekonomi 2026 menyasar seluruh pelaku usaha tanpa memandang skala usaha.
Mulai perusahaan besar, UMKM, toko kelontong, sektor pertanian, hingga usaha yang belum memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB).
Petugas juga melakukan pendataan terhadap usaha berbasis digital yang tidak memiliki lokasi usaha fisik atau papan nama.
Kategori tersebut antara lain usaha katering rumahan, toko online, kreator konten digital, afiliator marketplace, hingga pelaku usaha berbasis media sosial.
“Kami mendata semua agar tidak ada yang terlewat. Kami berharap responden jujur dan tidak menutup-nutupi usahanya agar data yang dihasilkan tidak bias,” imbuh Wisma. (ryu/aan)
Editor : Hengky Ristanto