Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Harga Telur di Madiun Anjlok, Peternak Minta Intervensi Pemerintah

Dian Rahayu • Jumat, 3 Juli 2026 | 17:40 WIB
Peternak ayam petelur di Desa Candimulyo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, menunjukkan hasil produksi telur. DIAN RAHAYU/RADAR MADIUN
Peternak ayam petelur di Desa Candimulyo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, menunjukkan hasil produksi telur. DIAN RAHAYU/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Peternak ayam petelur di Kabupaten Madiun menghadapi tekanan berat.

Harga telur di tingkat peternak anjlok hingga Rp 20 ribu per kilogram, sementara biaya produksi terus meningkat akibat kenaikan harga pakan.

Kondisi tersebut membuat banyak peternak merugi.

Salah seorang peternak ayam petelur di Desa Candimulyo, Kecamatan Dolopo, Suciani mengatakan, harga telur di tingkat peternak sudah bertahan di angka tersebut selama dua pekan terakhir.

Padahal, menurutnya, harga jual minimal agar peternak mencapai titik impas berada di kisaran Rp 24 ribu per kilogram.

"Kemarin pihak pengepul sempat menawar Rp 17.700 per kilo, tapi kami tolak dan memilih menahan stok di kandang dengan harapan beberapa hari ke depan membaik. Dengan harga sekarang, kami sudah rugi karena biaya produksi lebih besar dari hasil jual. Kalau terus begini kami terancam gulung tikar," ungkapnya, Jumat (3/7).

Suciani menilai turunnya harga telur dipengaruhi melemahnya daya beli masyarakat, terutama pada bulan Muharam atau Suro.

Di sisi lain, Harga Patokan Pembelian (HPP) sebesar Rp 26 ribu per kilogram yang ditetapkan pemerintah belum dirasakan di tingkat peternak.

Kondisi itu semakin berat karena harga konsentrat pakan ayam juga mengalami kenaikan dalam dua bulan terakhir.

"Kondisi ini diperparah harga konsentrat pakan ayam juga ikut mahal dua bulan terakhir, dari semula Rp 390.000 kini naik Rp 435.000 hingga Rp 437.500 per sak," keluhnya.

Saat ini, Suciani memelihara sekitar 1.600 ekor ayam petelur dengan produksi mencapai 75 hingga 80 kilogram telur per hari.

Namun, tingginya biaya produksi membuat usaha yang dijalankan tidak lagi memberikan keuntungan.

Dia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, baik melalui pengendalian harga pakan maupun pengawasan terhadap stabilitas harga telur di pasaran.

"Kami tidak bisa menaikkan harga telur sepihak karena tergantung pasar. Besar harapan kami agar pemerintah bisa menurunkan harga pakan agar seimbang, serta ada ketegasan soal stabilitas harga telur di pasar agar fluktuasinya tidak merugikan peternak," tandasnya. (ryu/aan)

Editor : Hengky Ristanto
#dolopo madiun #harga pakan ayam #harga telur madiun #harga telur ayam #peternak ayam petelur