Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Harga Beras Medium di Kabupaten Madiun Naik, Pedagang dan Warung Makan Mengeluh

Dian Rahayu • Kamis, 9 Juli 2026 | 00:40 WIB
Harga beras nonsubsidi di toko grosir Desa Pagotan, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir. DIAN RAHAYU/RADAR MADIUN
Harga beras nonsubsidi di toko grosir Desa Pagotan, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir. DIAN RAHAYU/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Harga beras nonsubsidi di sejumlah wilayah Kabupaten Madiun terus mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir.

Lonjakan harga tersebut dikeluhkan pedagang hingga pelaku usaha warung makan karena berdampak langsung pada biaya operasional.

Berdasarkan pantauan di toko grosir sembako di Desa Pagotan, Kecamatan Geger, harga beras medium dan premium kompak naik sejak sekitar satu bulan terakhir.

Kenaikan diduga dipicu meningkatnya harga gabah di tingkat petani.

Pedagang beras di Desa Pagotan, Mochammad Allan Irnanda Yusuf, mengatakan harga beras medium yang sebelumnya berada di kisaran Rp 12.800 hingga Rp 13.000 per kilogram kini naik menjadi Rp 13.500 per kilogram.

Sementara untuk pembelian dalam jumlah besar dipatok Rp 13.300 per kilogram.

"Untuk premium sekarang naik di Rp 14.900 dari sebelumnya Rp 14.700 per kilogram," jelas Allan.

Menurut dia, kenaikan harga beras nonsubsidi terjadi seiring meningkatnya harga gabah kering di tingkat petani.

Jika sebelumnya gabah dijual sekitar Rp 7.300 per kilogram, kini mencapai sekitar Rp 7.600 per kilogram.

Kondisi tersebut turut memengaruhi daya beli masyarakat.

Allan mengungkapkan sebagian konsumen mulai mengurangi pembelian beras nonsubsidi dan beralih ke beras program SPHP yang harganya lebih terjangkau.

"Dampak kenaikan harga beras nonsubsidi ini tentu pembelian berkurang dari sebelumnya dan omzet penjualan berkurang, rata-rata mengeluh mahal dan beralih ke beras subsidi seperti SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) yang lebih terjangkau," ungkapnya.

Kenaikan harga juga dirasakan pelaku usaha kuliner.

Sumadi, pemilik warung makan, mengaku harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli bahan baku, sementara harga jual makanan belum bisa dinaikkan.

"Tentu berpengaruh, karena pengeluaran untuk beli bahan baku naik, sedangkan kami tidak bisa menaikkan harga jual nasi di warung. Harapannya kondisi harga beras bisa turun dan stabil rendah lagi agar kami pelaku UMKM tidak kesulitan mendapat beras murah tapi berkualitas," katanya. (ryu/aan)

Editor : Hengky Ristanto
#Kabupaten Madiun #Beras sphp #harga beras