Jawa Pos Radar Madiun – Percasi Kabupaten Madiun mengirim 16 atlet untuk berlaga pada Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Catur Jawa Timur ke-57 Tahun 2026 di Kabupaten Pacitan.
Ajang tersebut dimanfaatkan sebagai sarana mengasah kemampuan sekaligus menambah pengalaman bertanding menghadapi pecatur terbaik se-Jawa Timur.
Ketua Percasi Kabupaten Madiun Edi Suprapto mengatakan, pihaknya tidak memasang target tinggi.
Fokus utama adalah memberikan pengalaman bertanding bagi para atlet agar mampu meningkatkan kualitas permainan.
"Target kami realistis, yang penting atlet mendapat pengalaman dan mampu bersaing," ujarnya, kemarin (12/7).
Dari 16 atlet yang diberangkatkan, lima atlet binaan Percasi memperoleh subsidi transportasi dan penginapan.
Sementara 11 atlet lainnya mengikuti kejuaraan secara mandiri dengan biaya sendiri.
Seluruh atlet turun pada nomor catur klasik di kelompok umur B hingga G atau rentang usia 7–16 tahun.
"Yang kami ikuti semuanya nomor catur klasik dengan waktu berpikir 45 menit ditambah increment 30 detik setiap langkah," katanya.
Menurut Edi, persaingan pada Kejurprov tahun ini cukup ketat dengan diikuti sekitar 720 atlet dari 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Meski demikian, Kabupaten Madiun tetap berharap mampu bersaing, terutama di kelompok umur G.
"Kalau bisa masuk 10 besar sudah alhamdulillah. Untuk medali, kami berharap peluang terbesar ada di kelompok umur G," ungkapnya.
Dia menilai peluang meraih medali cukup terbuka pada kelompok usia termuda karena jumlah pesertanya lebih sedikit dibanding kelompok umur lainnya.
"Semoga bisa meraih medali perak di kelompok G. Untuk kelompok umur yang lebih tinggi persaingannya jauh lebih berat karena banyak daerah memiliki atlet dengan Elo rating tinggi," jelasnya.
Edi mengakui keterbatasan anggaran masih menjadi tantangan utama dalam pembinaan atlet.
Persiapan menuju Kejurprov hanya berlangsung sekitar satu bulan setelah proses seleksi atlet selesai karena keterbatasan biaya untuk menghadirkan pelatih bersertifikat nasional.
"Persiapan kami memang mepet karena berbarengan dengan pelaksanaan musyawarah kabupaten. Setelah atlet terseleksi baru kami mencarikan pelatih," terangnya.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Percasi Kabupaten Madiun mulai menerapkan latihan secara daring agar pembinaan tetap berjalan meski dengan keterbatasan anggaran.
"Kami mulai merintis latihan secara online agar pembinaan tetap berjalan meski kondisi anggaran terbatas," pungkasnya. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto