Jawa Pos Radar Madiun – BPBD Kabupaten Madiun memetakan 71 desa di 13 kecamatan yang berpotensi terdampak kekeringan selama musim kemarau.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada wilayah yang mengalami krisis air bersih.
Sekretaris BPBD Kabupaten Madiun Ageng Kurnia Wijayanto mengatakan, pemetaan tersebut mengacu pada dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) sebagai dasar mitigasi dan penanganan bencana.
"Sejauh ini alhamdulillah potensi terjadinya kekeringan masih dalam tahap aman. Belum ada wilayah yang terdampak dengan risiko tinggi," ujarnya, kemarin (12/7).
Sebanyak 13 kecamatan yang masuk dalam peta potensi kekeringan meliputi Balerejo, Dagangan, Dolopo, Geger, Gemarang, Jiwan, Kebonsari, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Wonoasri, dan Wungu.
Menurut Ageng, potensi kekeringan paling tinggi berada di wilayah selatan, terutama Kecamatan Dagangan dan Dolopo.
"Potensi kekeringan paling tinggi berada di wilayah selatan, terutama Kecamatan Dagangan dan Dolopo," katanya.
BPBD juga terus melakukan pemantauan di seluruh wilayah Kabupaten Madiun.
Selain itu, masyarakat diberikan edukasi mengenai langkah-langkah pencegahan, termasuk penghematan penggunaan air bersih selama musim kemarau.
"Kami tidak harus menunggu terjadi kekeringan. Mapping dan pencegahan sedini mungkin sudah kami lakukan," jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD telah menyiapkan tandon air berkapasitas besar.
Apabila terjadi kekurangan air bersih, distribusi akan dilakukan bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) serta Perumda Air Minum (PDAM).
"Untuk tandon kami siap. Sedangkan penyediaan air bersih kami bersinergi dengan Damkar dan PDAM," ujarnya.
Selain kekeringan, BPBD juga memetakan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sebanyak 27 desa di delapan kecamatan masuk kategori rawan, yakni Dagangan, Gemarang, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Wonoasri, dan Wungu.
Kawasan Saradan, Gemarang, serta Pilangkenceng menjadi wilayah dengan potensi karhutla paling tinggi karena didominasi vegetasi kering dan pepohonan yang mudah terbakar. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto