Jawa Pos Radar Madiun – Kabar baik bagi calon jemaah haji di wilayah barat Jawa Timur.
Mulai musim haji tahun depan, pemberangkatan jemaah direncanakan dilakukan melalui Bandara Internasional Dhoho Kediri.
Jika terealisasi, jemaah dari Kabupaten Madiun dan 14 kabupaten/kota lainnya tak lagi harus berangkat melalui Embarkasi Surabaya.
Kepala Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Madiun Bisri Mustofa mengatakan, pembukaan embarkasi baru di Bandara Dhoho telah mendapat persetujuan dan kini tinggal menunggu tahapan persiapan dari pemerintah pusat.
"Insya Allah rencana tahun depan ini sudah disetujui. Untuk 15 kabupaten/kota di wilayah barat itu nanti embarkasinya di Dhoho," ujarnya, Minggu (26/7).
Menurut Bisri, Bandara Dhoho telah menjalani proses pengecekan dan uji kelayakan sebagai embarkasi haji.
Hasil evaluasi menunjukkan fasilitas bandara memenuhi persyaratan bahkan memperoleh nilai kelayakan yang lebih tinggi dibandingkan Bandara Juanda Surabaya.
"Untuk tahun ini sudah ada cek lapangan, uji kelayakan di Dhoho dan dinyatakan layak. Nilai kelayakannya lebih tinggi daripada di Surabaya Juanda," katanya.
Rencananya, embarkasi Dhoho akan melayani jemaah dari sedikitnya 15 kabupaten/kota yang berada di wilayah kerja (wilker) Madiun, Kediri, Nganjuk, Bojonegoro, serta sejumlah daerah lain di kawasan barat Jawa Timur.
Keberadaan embarkasi baru tersebut diharapkan memberikan kemudahan bagi calon jemaah haji karena jarak tempuh menuju titik pemberangkatan menjadi lebih dekat sekaligus mengurangi kepadatan di Embarkasi Surabaya.
"Kemungkinan lebih dekat, lebih nyaman, dan lebih sepi. Karena jemaah Jatim nanti terurai, tidak semuanya menumpuk di Embarkasi Surabaya," ungkapnya.
Bisri menjelaskan, selama ini Embarkasi Surabaya melayani sekitar 42 ribu jemaah haji atau sekitar 116 kelompok terbang (kloter) setiap musim haji.
Dalam sehari, jumlah pemberangkatan bahkan dapat mencapai empat hingga lima kloter.
Dengan beroperasinya embarkasi Dhoho, kepadatan tersebut diperkirakan berkurang sehingga proses pemberangkatan menjadi lebih lancar.
"Kemarin dalam satu hari bisa ada empat sampai lima kloter pemberangkatan. Dengan adanya Dhoho, insya Allah bisa berkurang menjadi tiga atau dua, sehingga tidak terlalu padat dan antreannya tidak rumit," jelasnya.
Untuk sementara, fasilitas asrama haji di Kediri belum tersedia.
Sebagai solusi, calon jemaah akan menjalani masa transit di hotel sebelum keberangkatan. Skema tersebut akan dibiayai melalui anggaran Kementerian Haji dan Umrah.
"Kalau di asrama haji kan sudah ada penginapan. Namun kalau belum ada, seperti yang pernah berjalan di Yogyakarta, transitnya menggunakan hotel," terangnya.
Bisri menambahkan, Kemenhaj Kabupaten Madiun bersama wilayah kerja Madiun masih menunggu petunjuk teknis dari pemerintah pusat dan Kantor Wilayah Kemenhaj.
Persiapan lanjutan akan mencakup survei ke Kediri untuk memastikan rute perjalanan, lokasi transit, waktu tempuh, hingga kesiapan pelayanan bagi calon jemaah. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto