BMKG Peringatkan Angin Kencang di Madiun, Risiko Karhutla Ikut Meningkat

Dian Rahayu • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 16:10 WIB
BPBD Kabupaten Madiun meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau dengan memetakan 20 titik rawan kekeringan dan karhutla. DOK RADAR MADIUN
WASPADA CUACA: BMKG Nganjuk memprakirakan potensi hujan lokal disertai peningkatan kecepatan angin di wilayah Madiun dan sekitarnya. DOK RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – BMKG mengingatkan masyarakat di wilayah Madiun dan sekitarnya untuk mewaspadai potensi hujan lokal yang disertai peningkatan kecepatan angin pada periode 22–26 Juli. 

Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.

Pengamat Meteorologi dan Geofisika Stasiun Geofisika BMKG Nganjuk Setiyaris mengatakan, fenomena itu dipicu adanya gangguan sirkulasi siklonik di Samudra Pasifik bagian utara Papua yang memengaruhi kondisi atmosfer di Jawa Timur.

"Gangguan sirkulasi ini berpotensi meningkatkan kecepatan angin di Jatim meski pusat sistem berada jauh dari Indonesia," ujarnya, Minggu (26/7).

Selain itu, BMKG memprakirakan gelombang ekuatorial Rossby melintasi Jawa Timur pada periode yang sama dengan intensitas terkuat pada 24–25 Juli.

Fenomena tersebut dapat memicu pertumbuhan awan konvektif sehingga meningkatkan peluang hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di sejumlah daerah.

Meski demikian, peluang hujan di Kabupaten Madiun diperkirakan lebih rendah dibandingkan wilayah pegunungan seperti Malang, Lumajang, Banyuwangi, dan Jember.

"Di Kabupaten Madiun peluang hujan tetap ada, namun secara umum lebih rendah dibanding daerah pegunungan seperti Malang, Lumajang, Banyuwangi, atau Jember," jelas Setiyaris.

BMKG juga memprediksi peningkatan kecepatan angin akan lebih terasa di wilayah Saradan, Balerejo, Wonoasri, Sawahan, Pilangkenceng, Jiwan, Geger, Kebonsari, hingga Dolopo.

Kondisi tersebut dipengaruhi topografi yang relatif datar sehingga sirkulasi udara berlangsung lebih bebas.

Setiyaris menegaskan, angin kencang yang terjadi bukan merupakan tanda munculnya angin puting beliung, melainkan dampak penguatan Monsun Australia yang membawa massa udara kering serta meningkatnya gradien tekanan udara akibat pusat tekanan rendah di kawasan Samudra Pasifik bagian barat, sebelah timur Filipina.

"Angin kencang yang terjadi saat musim kemarau lebih dipengaruhi penguatan monsun dan gradien tekanan udara regional, bukan fenomena puting beliung," tegasnya.

BMKG meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak ikutan dari kondisi cuaca tersebut.

Kombinasi angin kencang, suhu udara yang tinggi, dan kelembapan rendah berpotensi memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan Saradan, Gemarang, Kare, Dagangan, serta wilayah lain yang didominasi kawasan hutan kering.

"Yang perlu diwaspadai justru meningkatnya potensi kebakaran lahan maupun hutan akibat angin kencang yang disertai suhu panas dan kelembapan udara rendah," pungkasnya. (ryu/aan)

Editor : Hengky Ristanto
cuaca bmkg nganjuk kebakaran hutan dan lahan madiun