Air Waduk Dawuhan Madiun Terus Menyusut, Petani Diimbau Tak Tanam Padi

Dian Rahayu • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 22:45 WIB
SUSUT SAAT KEMARAU: Kondisi Waduk Dawuhan di Kecamatan Wonoasri yang mengalami penurunan volume air selama musim kemarau. DIAN RAHAYU/RADAR MADIUN
SUSUT SAAT KEMARAU: Kondisi Waduk Dawuhan di Kecamatan Wonoasri yang mengalami penurunan volume air selama musim kemarau. DIAN RAHAYU/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Volume air Waduk Dawuhan di Desa Plumpungrejo, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun terus menyusut seiring berlangsungnya musim kemarau.

Kondisi tersebut membuat petani diimbau berhemat menggunakan air dan beralih menanam palawija pada musim tanam (MT) ketiga agar pasokan irigasi tetap terjaga.

Petugas Operasi Waduk Dawuhan Agung Wirasat mengatakan, dari kapasitas normal sekitar 3,9 juta meter kubik, kini volume air yang tersisa sekitar 1,3 juta meter kubik. Penyusutan mulai terjadi sejak akhir April lalu.

"Dari volume normal di 3,9 juta meter kubik, sekarang sisa 1,3 juta meter kubik. Itu penyusutan berlangsung mulai akhir April kemarin," ujarnya, Senin (27/7).

Waduk Dawuhan menjadi sumber irigasi bagi lahan pertanian di Kecamatan Wonoasri, Madiun, dan Balerejo.

Dalam kurun sekitar dua setengah bulan, volume air telah berkurang hingga sekitar 50 persen akibat minimnya curah hujan.

Menurut Agung, cadangan air yang tersedia masih mencukupi kebutuhan irigasi untuk musim tanam padi kedua.

Namun, pada musim tanam ketiga, pasokan hanya mampu memenuhi kebutuhan awal sehingga petani disarankan mengikuti pola tanam yang telah ditetapkan.

"Sesuai Rencana Tata Tanam Global seharusnya MT ketiga menanam palawija. Jika dipaksa menanam padi lagi maka volume air tidak akan sanggup," katanya.

Agung mengaku telah berulang kali menyosialisasikan anjuran tersebut kepada petani di 10 desa yang memanfaatkan air Waduk Dawuhan.

Namun, sebagian petani masih memilih menanam padi sehingga harus mencari sumber air tambahan secara mandiri.

"Kebanyakan dari 1.273 hektare lahan yang mendapatkan irigasi dari waduk tanamnya padi. Jadi, nanti untuk kekurangan air mereka biasanya menggunakan sibel," ungkapnya.

Ia menambahkan, pengelola waduk wajib mempertahankan cadangan air minimal 15 persen dari kapasitas normal atau sekitar 300.000 meter kubik.

Ketika batas tersebut tercapai, pintu air akan ditutup untuk menjaga kondisi dasar waduk agar tidak mengalami kekeringan dan kerusakan.

"Kalau sudah di angka 15 persen akan kami tutup gerbangnya agar air tetap terjaga di dalam waduk. Jadi kondisi waduk tidak akan betul-betul mengalami kekeringan," tandasnya. (ryu/aan)

Editor : Hengky Ristanto
waduk dawuhan musim kemarau irigasi