BMKG: El Nino Kuat Bikin Musim Kemarau di Madiun Raya Mundur hingga November

Loditya Fernandes • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 16:07 WIB
WASPADA KEMARAU: BMKG memprediksi El Nino kuat memperpanjang musim kemarau di Madiun Raya hingga November sehingga potensi kekeringan meningkat. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN
WASPADA KEMARAU: BMKG memprediksi El Nino kuat memperpanjang musim kemarau di Madiun Raya hingga November sehingga potensi kekeringan meningkat. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Musim kemarau di Madiun Raya diprediksi berlangsung lebih panjang tahun ini.

Fenomena El Nino berkategori kuat menyebabkan curah hujan menurun signifikan sehingga awal musim penghujan diperkirakan mundur hingga Desember.

Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya Stasiun Geofisika III BMKG Nganjuk Setyaris mengatakan, berdasarkan pemantauan BMKG, anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur pada periode Mei–Juli mencapai sekitar 1,5 derajat Celsius. Nilai tersebut masuk kategori El Nino kuat.

"Kalau 1,5 sampai 2 derajat itu kategorinya kuat. Dan saat ini trennya masih menunjukkan kenaikan," ungkapnya.

Menurut Setyaris, El Nino ditandai meningkatnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

Kondisi itu membuat wilayah sekitar Indonesia relatif lebih dingin sehingga memengaruhi pola pergerakan massa udara dan mengurangi pembentukan awan hujan.

Akibatnya, curah hujan selama musim kemarau turun cukup signifikan.

Berdasarkan sejumlah kajian, penurunannya dapat mencapai sekitar 20 hingga 40 persen.

Untuk wilayah Madiun Raya, dampak yang paling perlu diwaspadai adalah meningkatnya potensi kekeringan, terutama di daerah yang selama ini rawan mengalami krisis air.

"Untuk di Madiun Raya memang yang lebih berpengaruh adalah kekeringan. Wilayah-wilayah yang rawan kekeringan berpotensi semakin terdampak," jelasnya.

Selain itu, kondisi cuaca yang lebih panas, kelembapan udara rendah, dan angin yang lebih kencang juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan secara sembarangan.

Setyaris memperkirakan dampak El Nino masih terasa hingga November.

Normalnya, masa transisi menuju musim hujan mulai terjadi pada Oktober hingga November.

Namun, tahun ini musim hujan diprediksi baru berlangsung lebih konsisten pada Desember.

"Di 2026 ini pengaruh yang signifikan itu Juli, Agustus hingga November. Kemudian di Desember insya Allah sudah mulai masuk musim hujan lagi," katanya. (odi/aan)

Editor : Hengky Ristanto
kemarau madiun raya bmkg nganjuk el nino kekeringan