Jawa Pos Radar Madiun – Bupati Madiun Hari Wuryanto meminta kontraktor segera menuntaskan sisa pembangunan fisik Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1.
Penyempurnaan infrastruktur ditargetkan rampung dalam dua pekan agar operasional sekolah tidak kembali molor.
Menurut Mas Hari Wur, sapaan akrab bupati, mundurnya pemusatan siswa berasrama hingga pertengahan Agustus masih dapat dimaklumi mengingat proyek berskala besar dikerjakan dalam waktu relatif singkat.
"Memang seharusnya ini sudah selesai. Namun, kami memahami tantangan membangun infrastruktur seluas dan semegah ini dalam waktu yang sangat singkat," ujarnya, Minggu (2/8).
Meski demikian, dia meminta PT Brantas Abipraya sebagai kontraktor segera menggeber penyelesaian sekitar lima persen pekerjaan yang masih tersisa, terutama pada sistem air bersih dan sanitasi.
"Kami harapkan sisa lima persen ini bisa diselesaikan secepatnya dalam waktu dua minggu," tegasnya.
Hari menilai penundaan tidak mengurangi tujuan utama program Sekolah Rakyat yang digagas Kementerian Sosial.
Program tersebut menjadi kesempatan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera untuk memperoleh pendidikan berkualitas sekaligus memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Pada tahap pertama, sekitar 260 siswa dari keluarga desil 1 dan 2 telah diterima.
Jumlah itu masih jauh di bawah kapasitas maksimal sekolah yang diproyeksikan mampu menampung hingga 1.200 siswa.
"Seluruh kebutuhan anak-anak ditanggung negara. Kami berharap pendidikan di Sekolah Rakyat menjadi jalan untuk mengubah masa depan mereka dan memutus rantai kemiskinan keluarga," katanya.
Pemkab Madiun juga memastikan akan memantau operasional sekolah setelah MPLS dimulai.
Tujuannya agar proses pembelajaran berjalan optimal dan mampu membentuk karakter serta akhlak peserta didik. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto