Jawa Pos Radar Madiun - Tim pengabdian masyarakat Program Studi D3 Teknik Informatika Universitas Sebelas Maret (UNS) Kampus Kabupaten Madiun menuntaskan implementasi sistem skrining Tuberkulosis (TBC) berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pada citra rontgen dada.
Agenda yang berlangsung selama tiga hari, 20–22 Juli 2026, itu mencakup diseminasi di Dinas Kesehatan (Dinkes), penyerahan gawai tablet kepada Bupati Madiun, hingga pendampingan lapangan di Desa Dempelan.
Inovasi ini digulirkan guna menjawab belum maksimalnya capaian penemuan kasus TBC di Kabupaten Madiun. Dari target 1.892 kasus, capaian baru menyentuh angka 517 kasus.
Kendala utama bersumber dari metode tes dahak yang kerap menyulitkan pasien. Sebaliknya, warga justru lebih kooperatif saat menjalani pemeriksaan rontgen dada.
Rangkaian kegiatan diawali diseminasi di Dinkes Kabupaten Madiun pada Senin (20/7).
Sehari berselang, Selasa (21/7), sistem diserahkan secara simbolis berupa gawai tablet kepada Bupati Madiun pada gelaran Sarasehan Bahana Bersahaja di Desa Dempelan, Kecamatan Madiun.
Baca Juga: Bangga! Siswa SMK PGRI 1 Ngawi Cetak Sejarah, Raih Juara 3 LKS Nasional 2026
Puncaknya, Rabu (22/7), tim mendampingi tenaga kesehatan mempraktikkan alur skrining di lokasi.
Ketua Tim Pengabdian Ahmad Faisal Sani mengungkapkan, sistem skrining yang diberi nama TibiSmart tersebut mengadopsi algoritma Convolutional Neural Network (CNN) dengan arsitektur DenseNet121 serta visualisasi Grad-CAM.
"TibiSmart difungsikan sebagai alat bantu pengambilan keputusan (decision support system), bukan alat diagnosis akhir. Hasil analisis sistem tetap memerlukan validasi dari tenaga medis," terang Faisal.
Ia menambahkan, program bertajuk Implementasi Sistem Skrining TBC Berbasis Kecerdasan Buatan pada Citra Rontgen Dada di Dinkes Kabupaten Madiun ini didanai melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat Hibah Grup Riset (PKM HGR-UNS) yang melibatkan enam anggota tim.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Madiun Agung Dodik Pujianto mengapresiasi efisiensi yang ditawarkan sistem tersebut pada layanan mobile rontgen.
"Lewat deteksi AI, hasil bacaan rontgen bisa langsung dibaca oleh dokter umum tanpa perlu menunggu evaluasi dokter spesialis paru. Warga bisa langsung mengetahui indikasi hasilnya di lokasi secara cepat," pungkas Agung. (*)
Editor : Mizan Ahsani