Dua Penari Tunarungu asal Kabupaten Madiun Raih Prestasi hingga Tingkat Nasional

Loditya Fernandes • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 19:40 WIB
BERBAKAT: Atika Pratiwi Mulyaningsih dan Azkya Valla Ayyasy didampingi guru pembimbing Diana Onar Frantiwi. FOTO: LODITYA FERNANDEZ/RADAR CARUBAN
BERBAKAT: Atika Pratiwi Mulyaningsih dan Azkya Valla Ayyasy didampingi guru pembimbing Diana Onar Frantiwi. FOTO: LODITYA FERNANDEZ/RADAR CARUBAN

Jawa Pos Radar Madiun - Tak ada alunan musik yang benar-benar sampai ke telinga Atika Pratiwi Mulyaningsih dan Azkya Valla Ayyasy.

Namun, setiap hentakan kaki dan gerakan tangan keduanya selalu selaras dengan irama.

Keterbatasan pendengaran tak pernah menjadi penghalang bagi dua siswi tunarungu asal SLBN Banjarsari Wetan, Kecamatan Dagangan, untuk mengukir prestasi hingga tingkat nasional.

Duet penari muda itu menjadi kebanggaan Kabupaten Madiun setelah dua tahun berturut-turut menjuarai Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Jawa Timur pada 2025 dan 2026.

Prestasi tersebut mengantarkan mereka meraih Juara Harapan I FLS2N tingkat nasional.

Bakat Atika dan Valla ditemukan melalui proses observasi yang rutin dilakukan sekolah sejak keduanya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Potensi di bidang seni tari kemudian diasah secara intensif hingga mampu bersaing di level tertinggi.

"Penjaringan bakat sebenarnya sudah dilakukan sejak mereka duduk di bangku SD. Kini Valla sudah kelas XI SMA dan Atika kelas X SMA. Karena punya potensi unggul dan paling siap, mereka berdua yang terus kami matangkan untuk kompetisi," ujar Diana Onar Frantiwi, guru pendamping sekaligus penanggung jawab ekstrakurikuler tari SLBN Banjarsari Wetan.

Melatih penari tunarungu bukan perkara mudah.

Tanpa mengandalkan pendengaran, mereka harus menghafal setiap perpindahan gerak melalui isyarat visual dan hitungan tempo.

Saat latihan maupun tampil di atas panggung, pelatih ikut memberikan kode dari sisi panggung agar setiap gerakan tetap selaras dengan musik.

"Kami harus memberi kode setiap delapan hitungan untuk pergantian gerakan. Memang butuh latihan berulang-ulang agar gerakan mereka dan kode dari kami benar-benar sinkron dengan musik," jelas Diana.

Perjuangan itu semakin terasa saat FLS2N Jawa Timur 2026.

Selisih waktu antara seleksi kabupaten dan provinsi hanya satu pekan.

Di sisi lain, Atika dan Valla diwajibkan menampilkan tarian baru berdurasi enam menit dengan tema berbeda.

"Waktu latihan efektif cuma lima hari. Dua hari pertama, yang satu masuk angin dan satunya lagi pusing. Jadi materi enam menit itu benar-benar kami kebut dalam tiga hari terakhir. Alhamdulillah, berkat semangat mereka, bisa juara satu Jatim lagi," kenangnya.

Keberhasilan Atika yang tinggal bersama orang tuanya serta Valla yang menetap di LKSA PD Bananul Amanah Banjarsari Wetan tidak lepas dari dukungan keluarga dan sekolah.

Dukungan tersebut menjadi penyemangat bagi keduanya untuk terus mengembangkan kemampuan di bidang tari.

Bagi Atika dan Valla, menari bukan sekadar meraih prestasi.

Lewat bahasa tubuh dan ekspresi, mereka membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya dan mengharumkan nama Kabupaten Madiun di tingkat nasional. (odi/aan)

Editor : Hengky Ristanto
Atika Pratiwi Mulyaningsih Azkya Valla Ayyasy SLBN Banjarsari Wetan Kabupaten Madiun FLS2N