BMKG Peringatkan Madiun Bisa 60 Hari Tanpa Hujan, Waspada Kekeringan Ekstrem

Dian Rahayu • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 04:45 WIB
Debit air Waduk Dawuhan di Kecamatan Wonoasri mulai menyusut seiring musim kemarau. BMKG memprediksi Kabupaten Madiun berpotensi mengalami hingga 60 hari tanpa hujan. Foto: Ilustrasi
Debit air Waduk Dawuhan di Kecamatan Wonoasri mulai menyusut seiring musim kemarau. BMKG memprediksi Kabupaten Madiun berpotensi mengalami hingga 60 hari tanpa hujan. Foto: Ilustrasi

Jawa Pos Radar Madiun – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan Kabupaten Madiun berpotensi mengalami hari tanpa hujan (HTH) hingga 60 hari berturut-turut.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan ekstrem, terutama di sektor pertanian dan ketersediaan air bersih.

Pengamat Meteorologi dan Geofisika Stasiun Geofisika BMKG Nganjuk, Setiyaris, mengatakan wilayah Jawa Timur bagian barat, termasuk Kabupaten Madiun, menjadi salah satu daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap musim kemarau yang berkepanjangan.

"Wilayah Jawa Timur bagian barat, termasuk Kabupaten Madiun, menjadi daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi hari tanpa hujan yang sudah berlangsung cukup panjang," ujarnya, Selasa (4/8).

Berdasarkan hasil pemantauan hingga 31 Juli 2026, distribusi curah hujan pada Dasarian III Juli masih didominasi kategori rendah di sebagian besar wilayah Jawa Timur.

Hujan yang sempat turun di sejumlah daerah dinilai belum mampu mengurangi dampak kekeringan yang telah berlangsung selama beberapa pekan.

"Curah hujan yang terjadi masih rendah sehingga belum cukup untuk memperbaiki kondisi kering di sejumlah wilayah," jelas Setiyaris.

Memasuki Dasarian I Agustus 2026, BMKG memprediksi peluang curah hujan rendah di Jawa Timur masih berada di atas 90 persen.

Meski Monsun Australia diperkirakan mulai melemah dan terdapat pengaruh Madden–Julian Oscillation (MJO) yang dapat memicu hujan lokal, intensitas hujan diperkirakan tidak merata sehingga belum mampu mengakhiri musim kemarau secara umum.

"Hujan lokal masih mungkin terjadi, namun sifatnya sporadis dan belum signifikan untuk mengurangi dampak kekeringan," ungkapnya.

BMKG mengimbau masyarakat menggunakan air bersih secara bijak dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di kawasan hutan, lahan pertanian, maupun semak belukar yang telah mengering.

Petani juga diminta menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air serta rutin memantau informasi cuaca terbaru sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung.

"Kondisi kering yang masih berlangsung meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan, sehingga kewaspadaan seluruh masyarakat perlu terus ditingkatkan," pungkas Setiyaris. (ryu/aan)

Editor : Hengky Ristanto
Kabupaten Madiun musim kemarau kekeringan cuaca madiun bmkg