Hama Wereng Serang Padi di Balerejo Madiun, Petani Pilih Babat Tanaman

Dian Rahayu • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 18:40 WIB
DUKUNG PRODUKTIVITAS: Benih padi unggul varietas Inpari 32 disalurkan kepada kelompok tani di Kota Madiun. DOK RADAR MADIUN
Tanaman padi milik petani Desa Pacinan, Kecamatan Balerejo, Madiun rusak akibat serangan hama wereng hingga terpaksa dibabat lebih awal. Foto: Dian Rahayu/Jawa Pos Radar Caruban

Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman gagal panen menghantui petani di Desa Pacinan, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun.

Setelah menghadapi persoalan kekeringan, petani kini harus berhadapan dengan serangan hama wereng yang membuat tanaman padi mengering hingga mati.

Serangan tersebut membuat sejumlah petani memilih membabat tanaman lebih awal.

Langkah itu dilakukan agar hama tidak semakin meluas dan menyerang lahan padi lainnya.

Salah satu petani terdampak adalah Suyadi, warga Desa Pacinan.

Tanaman padi miliknya di lahan seluas setengah hektare dipastikan gagal panen setelah terserang wereng sejak usia tanaman baru 20 hari.

Berbagai upaya pengendalian telah dilakukan, termasuk penyemprotan obat. Namun, serangan hama tetap tidak mampu dihentikan.

“Sudah dilakukan berbagai upaya pengobatan, sampai saya habis biaya Rp 1,5 juta tapi tetap tidak ada hasilnya, mati semua,” ungkapnya, Kamis (6/8).

Suyadi menyebut kerugian musim tanam kali ini cukup besar.

Sebab, lahan setengah hektare miliknya biasanya mampu menghasilkan sekitar 8 ton gabah saat panen.

Namun, kondisi tanaman yang mati membuat seluruh hasil panen hilang.

Meski mengalami kerugian, dia tetap berencana kembali menanam padi setelah kondisi lahan dinilai lebih aman dari serangan wereng.

“Ini sama sekali tidak bisa dipanen, terpaksa didiamkan dikeringkan dulu agar siklus hama werengnya selesai. Baru nanti sambil tunggu yang lain panen November akan kami tanami lagi padi,” terangnya.

Serangan wereng juga dialami Sugeng, petani lain di Desa Pacinan.

Dari satu hektare lahan yang ditanami padi, sekitar separuhnya mengalami kerusakan akibat hama wereng dan virus pengganggu tanaman.

Untuk mencegah penyebaran lebih luas, Sugeng memilih membabat tanaman yang sudah rusak.

Padahal, berbagai upaya pengobatan rutin telah dilakukan.

“Di daerah sini banyak yang terserang hama wereng juga. Ini mulai menyerang tanaman usia 20 hari, sudah dilakukan pengobatan rutin lima sampai seminggu sekali tapi tidak membaik,” katanya.

Sugeng mengaku telah mengeluarkan biaya sekitar Rp 3 juta untuk pengobatan tanaman.

Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil karena sebagian tanaman sudah mati.

“Kalau biasanya lahan satu hektare ini bisa panen 8 ton, sekarang ini sudah mati tidak bisa panen jadi sekalian saja saya babat dan tunggu musim tanam selanjutnya,” tambahnya.

Sugeng berharap pemerintah memberikan bantuan penanganan untuk petani yang terdampak serangan wereng.

Menurutnya, hama tersebut termasuk organisme pengganggu tanaman (OPT) yang sulit dikendalikan dan dapat menyebabkan kerugian besar.

“Harapannya ada bantuan dari pemerintah untuk meringankan beban petani dalam menghadapi ancaman gagal panen ini,” harapnya. (ryu/aan)

Editor : Hengky Ristanto
padi Balerejo petani gagal panen hama wereng madiun