Jawa Pos Radar Madiun – Politeknik Negeri Madiun (PNM) mendorong pelaku UMKM kopi meningkatkan nilai tambah produknya. Salah satunya melalui penerapan mesin roasting kopi dengan pengaturan parameter otomatis yang memungkinkan suhu, waktu, dan kecepatan putaran drum dikendalikan lebih presisi.
Teknologi tersebut diterapkan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) 2026. Sasarannya membantu pelaku usaha yang sebelumnya masih menjual kopi dalam bentuk biji kering atau green bean agar mampu mengembangkan produk kopi sangrai dengan kualitas lebih konsisten dan nilai jual lebih tinggi.
Ketua Pelaksana PkM PNM Noorsakti Wahyudi mengatakan, pengolahan pascapanen masih menjadi salah satu keterbatasan yang dihadapi pelaku UMKM kopi. Padahal, proses roasting memiliki peran penting dalam menentukan kualitas produk akhir.
“Roasting merupakan salah satu tahapan penting yang menentukan karakteristik rasa, aroma, warna, dan kualitas akhir kopi. Karena itu, pengaturan parameter roasting perlu dilakukan secara lebih terkontrol agar kualitas produk yang dihasilkan dapat lebih konsisten,” jelas Noorsakti.
Selama ini, penggunaan metode manual maupun mesin sederhana membuat pengaturan suhu, waktu, dan kecepatan putaran drum belum selalu presisi.
Kondisi tersebut berpotensi menghasilkan tingkat kematangan kopi yang tidak seragam, termasuk risiko biji terlalu matang maupun kurang matang.
Atur Suhu hingga Kecepatan Putaran
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim PNM menerapkan mesin roasting yang dirancang sesuai kebutuhan usaha skala UMKM. Teknologi tersebut menggunakan konsep drum roaster horizontal dengan sistem pemanas berbahan bakar LPG.
Mesin dilengkapi sistem pengaturan parameter sehingga pengguna dapat menentukan suhu, waktu, serta kecepatan putaran drum sesuai kebutuhan proses roasting. Pengendalian tersebut diharapkan menghasilkan tingkat kematangan dan karakteristik kopi yang lebih konsisten.
Namun, penerapan teknologi tidak sebatas menyerahkan mesin kepada mitra. Tim PNM juga membekali pelaku usaha dengan pemahaman mengenai proses pengolahan kopi sehingga mereka mampu mengoperasikan teknologi secara mandiri.
“Yang kami dorong bukan hanya penggunaan mesinnya, tetapi bagaimana mitra memahami proses roasting dan mampu menentukan parameter yang sesuai. Dengan demikian, teknologi dapat benar-benar digunakan secara mandiri untuk mendukung kegiatan usaha,” ujarnya.
Baca Juga: 39 Pejabat Rebutkan 6 Kursi Kepala Dinas, DPRD Ponorogo Minta Peseta Lokal Tak Minder Bersaing
UMKM Dilatih Operasikan Mesin
Penerapan teknologi dilakukan secara bertahap. Tim terlebih dahulu memantau dan mengidentifikasi kondisi mitra sebelum memberikan sosialisasi mengenai teknologi roasting dan pentingnya pengendalian parameter produksi.
Pelaku UMKM kemudian mendapatkan pelatihan langsung mengenai pengoperasian mesin. Materinya mencakup pengenalan komponen hingga pengaturan suhu, waktu, dan kecepatan putaran drum.
Pendampingan dan evaluasi juga dilakukan setelah mesin diterapkan. Tahapan tersebut diarahkan agar mitra memahami hubungan antara parameter roasting dan karakteristik kopi yang dihasilkan.
Dengan kemampuan tersebut, biji kopi yang sebelumnya dipasarkan dalam bentuk green bean berpeluang dikembangkan menjadi produk kopi sangrai. Diversifikasi tersebut diharapkan membuka peluang pemasaran sekaligus memberikan nilai tambah lebih tinggi bagi produk UMKM kopi.
“Harapannya, mitra tidak berhenti pada kemampuan mengoperasikan mesin. Setelah memahami proses roasting, mereka dapat mengembangkan produk kopi sangrai yang lebih konsisten dan memiliki nilai tambah lebih tinggi,” tambah Noorsakti.
Didanai Kemendiktisaintek
Program tersebut dilaksanakan tim PNM yang diketuai Noorsakti Wahyudi dengan anggota Deby Ika Hariani dan Andhika Putra Widyadharma.
Kegiatan masuk dalam Program Pengabdian kepada Masyarakat 2026, Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pengabdian Masyarakat Pemula (PMP), dengan bidang fokus pangan.
Program didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Pendanaan 2026. (*)
Editor : Mizan Ahsani