Jawa Pos Radar Madiun – Kemeriahan peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI di Kabupaten Madiun bakal dibalut aksi kemanusiaan.
Pemkab resmi mengubah nama Caruban Night Carnival (CNC) menjadi Caruban Night Solidarity sebagai bentuk empati terhadap korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Madiun Sigit Budiarto mengatakan, perubahan tersebut sengaja dilakukan untuk memberikan makna solidaritas dalam gelaran parade yang kembali dihidupkan setelah sekitar 12 tahun vakum.
’’Sebagai bentuk empati kami terhadap musibah di NTT, nama kegiatan kita sesuaikan menjadi Caruban Night Solidarity,’’ ungkap Sigit, kemarin (21/8).
Tak hanya berganti nama. Konsep acara juga disesuaikan agar peringatan kemerdekaan tersebut membawa misi kemanusiaan.
Gelaran Caruban Night Solidarity yang mengambil rute dari Alun-Alun Reksogati hingga Lapangan Bangunsari itu bakal disisipi doa bersama untuk korban gempa NTT.
Pemkab Madiun juga menyiapkan sejumlah posko donasi di sepanjang rute.
Masyarakat maupun peserta parade dapat menyalurkan bantuan melalui posko tersebut.
’’Pemkab Madiun bakal mendirikan posko-posko donasi yang disiagakan di beberapa titik sepanjang rute parade untuk menampung kepedulian dari para peserta maupun masyarakat yang hadir,’’ katanya.
Sigit berharap aksi solidaritas tersebut dapat membantu meringankan beban masyarakat terdampak bencana di NTT.
Untuk memastikan penggalangan hingga penyaluran bantuan berjalan terkoordinasi, pemkab menggandeng Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
’’Nantinya untuk penggalangan dan penyaluran hasil donasi, kami bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD),’’ imbuhnya.
Sebelumnya, Caruban Night Carnival dibangkitkan setelah sekitar 12 tahun vakum untuk memeriahkan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI.
Setelah konsepnya disesuaikan, gelaran tersebut kini mengusung nama Caruban Night Solidarity.
Antusiasme peserta disebut cukup tinggi. Lebih dari 30 peserta diperkirakan ambil bagian.
Mereka berasal dari organisasi perangkat daerah (OPD), RSUD, BUMD, hingga instansi vertikal seperti Polres dan Kodim.
Bahkan, panitia terpaksa membatasi jumlah peserta lantaran tingginya animo untuk mengikuti parade tersebut.
’’Bahkan sampai menolak peserta saking tingginya antusiasme,’’ pungkas Sigit. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto