Jawa Pos Radar Madiun – Persoalan sampah Kabupaten Madiun bakal mendapat tambahan daya gedor. TPST LSDP Kaliabu yang direncanakan dibangun di kawasan TPA Kaliabu, Kecamatan Mejayan, diproyeksikan mampu mengolah hingga 100 ton sampah setiap hari.
Kapasitas tersebut setara sekitar sepertiga dari timbulan sampah Kabupaten Madiun yang saat ini mencapai sekitar 295 ton per hari.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Madiun M Zahrowi mengatakan, keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) melalui program Local Service Delivery Improvement Project (LSDP) bakal memperkuat kapasitas pengelolaan sampah daerah.
’’Fasilitas ini berpotensi menangani sekitar sepertiga timbulan sampah harian di wilayah setempat,’’ ujarnya, Sabtu (29/8).
Baca Juga: Ditolak Warga Bangunsari, Pemkab Madiun Alihkan TPST LSDP ke TPA Kaliabu
Zahrowi menyebut dukungan teknologi pengolahan sampah dalam program LSDP berpotensi membuat penanganan sampah lebih efektif. Sebab, pengolahan bakal ditopang fasilitas dan teknologi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
’’Sangat efektif. Otomatis karena di sini melibatkan sentuhan teknologi,’’ ujarnya.
Meski demikian, kapasitas 100 ton per hari tersebut masih berupa potensi yang perlu dioptimalkan. Sementara, keseluruhan timbulan sampah Kabupaten Madiun yang mencapai sekitar 295 ton per hari tetap harus ditangani.
Karena itu, keberadaan TPST tidak dapat diposisikan sebagai satu-satunya solusi. Fasilitas tersebut menjadi instrumen untuk membantu mempercepat penanganan persoalan sampah.
’’Itu potensi. Kita bicara potensi. Potensi timbulan sampah di Kabupaten Madiun itu kan 295 ton per hari. Nah, itu kan semua harus kita selesaikan,’’ jelasnya.
Baca Juga: TPST Kabupaten Madiun Bergeser ke TPA Kaliabu, Target Olah 100 Ton Sampah
Menurut Zahrowi, teknologi yang disiapkan melalui program LSDP bakal membantu mempercepat proses pengolahan. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada keterlibatan masyarakat sejak dari sumber sampah.
Mulai rumah tangga, pelaku usaha, hingga sektor industri perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai pengelolaan sampah. Teknologi saja dinilai tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
’’Alat kan membantu, Pak. Tapi keterlibatan masyarakat, semua pihak, harus. Gak cukup alat thok. Alat itu memudahkan, membantu percepatan,’’ tegasnya.
Di sisi operasional, DLH Kabupaten Madiun membuka peluang menggandeng pihak swasta yang memiliki keahlian dalam pengelolaan sampah. Namun, skema tersebut masih dalam tahap kajian.
Kajian terutama menyangkut kebutuhan operasional dan model pengelolaan setelah infrastruktur LSDP selesai dibangun. Kapasitas sumber daya manusia juga menjadi salah satu pertimbangan.
’’Ini konsep. Karena kalau secara sumber daya manusia atau kapasitas kami untuk mengelola sedemikian besar dengan teknologi seperti itu kan butuh effort, butuh belajar,’’ ungkap Zahrowi. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto