Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman hama dan perubahan iklim mendorong petani mengubah pola budidaya.
Di Desa Klumutan, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Manajemen Tanaman Sehat diterapkan dengan memanfaatkan bahan ramah lingkungan untuk menekan biaya sekaligus menjaga produktivitas padi.
Penerapan tersebut dilakukan Kelompok Tani Tani Makmur. Petani didorong semakin mandiri dalam menyediakan sarana produksi dan bahan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur Heru Suseno mengatakan, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan sekaligus mendukung swasembada pangan secara berkelanjutan.
“Kita dorong swasembada pangan berkelanjutan melalui manajemen tanaman sehat dengan menggunakan input produksi yang ramah lingkungan,” ujar Heru, Jumat (4/9).
Manajemen Tanaman Sehat dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya ancaman terhadap tanaman padi.
Berdasarkan pemantauan April hingga Agustus 2026, luas serangan hama tikus di Jawa Timur tercatat mencapai 1.972 hektare.
Angka tersebut disebut meningkat 140 persen dibandingkan 2025 yang mencapai 1.400 hektare.
Sementara itu, luas tanaman terdampak kekeringan mencapai 493 hektare atau disebut melonjak 1.125 persen.
“Mari kita lakukan bersama upaya mitigasi dan antisipasi dampak perubahan iklim, khususnya pada musim kemarau tahun ini,” lanjutnya.
Di Desa Klumutan, petani memanfaatkan berbagai bahan lokal untuk mendukung budidaya. Di antaranya Bioloka, Bubur California, PGPR, MOL, agen antagonis, entomopatogen, serta agen pengendali hayati (APH).
Petani Desa Klumutan Sukardiono mengatakan, pemanfaatan bahan lokal mampu memangkas biaya produksi sekitar 70–80 persen.
Penggunaan bahan kimia dalam skema budidaya tersebut juga disebut telah dihentikan.
Hasil panen pada lahan seluas 1.500 meter persegi diklaim ikut meningkat. Jika sebelumnya kurang dari satu ton, produksi kini mencapai sekitar 1,1 ton.
“Kimia betul-betul nol. Kami memanfaatkan bahan lokal yang ada di sekitar,” ungkap Sukardiono. (ryu/aan)
Editor : Hengky Ristanto